Oleh : H. Rohmani, S.Pd, MA*

Bu Lastri sudah dua belas tahun berjualan di kantin sekolah. Dia hafal nama murid-muridnya.Tahu siapa yang suka gorengan, siapa yang sering berutang, siapa yang kadang tidak punya uang jajan lalu tetap diberi makan.
Lalu datang Program Makan Bergizi Gratis.Murid-muridnya masih sama.Sekolahnya masih sama. Tapi kantin Bu Lastri mendadak sepi. Bukan karena dagangannya tidak laku. Bukan karena pelayanannya buruk.Tapi karena kebijakan datang seolah Bu Lastri tidak pernah ada.
Pola yang sama kini terlihat di desa. Pemerintah ingin membangun puluhan ribu Koperasi Desa Merah Putih. Padahal koperasi sudah ada. Sudah bertahun-tahun hidup. Sudah susah payah mencari anggota, membangun modal, dan menjaga kepercayaan warga. Tapi program baru datang seolah semuanya dimulai dari nol.
Antropolog James Scott pernah mengingatkan, negara sering melihat masyarakat seperti melihat peta dari udara. Dari atas, yang terlihat hanya angka. Hanya target. Hanya titik-titik lokasi. Yang tidak terlihat adalah manusia. Yang tidak terlihat adalah hubungan sosial. Yang tidak terlihat adalah Bu Lastri.
Akibatnya, negara sering merasa sedang membangun sesuatu yang baru. Padahal yang terjadi kadang justru menggusur sesuatu yang sudah hidup. Ini bukan soal niat baik atau niat buruk. Ini soal cara pandang.
Ketika negara membayangkan masyarakat sebagai ruang kosong, maka yang pertama hilang adalah mereka yang tidak masuk tabel dan laporan. Padahal pembangunan seharusnya tidak dimulai dengan bertanya: “Apa yang akan kita bangun?” Tetapi: “Siapa yang sudah ada di sana?” Karena desa tidak kosong. Sekolah tidak kosong. Masyarakat tidak kosong.
Dan sering kali, masalah terbesar sebuah kebijakan bukan karena kekurangan anggaran. Melainkan karena terlalu sibuk membuat peta, sampai lupa melihat manusia yang hidup di dalamnya.
Penulis : *) Pemilik Rohmani. id (ADM).


















