Oleh: SYAMSUDIN NABILAH*

HARI ini kita sudah memasuki tahun baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriah. Tak ada pesta tak ada kembang api. Tak ada pula dentuman petasan seperti tahun baru masehi. Tak apalah dan seharusnya memang begitu. Tak perlu berpesta. Yang penting bahagia menyambut kedatangan tahun baru Islam tahun ini.
Pada hakikatnya, tahun baru Islam tidak sekadar menyaksikan berubahnya dari angka 1447 ke 1448. Tapi lebih dari itu. Ini mengingatkan sejarah panjang yang maknanya cukup mendalam.
Bahwa hijrah sebagai gerakan perubahan, bukan sekadar perpindahan tempat atau angka, melainkan perpindahan dari kondisi buruk ke kondisi yang lebih baik. Dari kegelapan menuju cahaya (minad dzulimaati ilannnuur). Dari perpecahan menuju persatuan. Dari ketidak pedulian kepada sesama menuju sifat peduli.
Di tengah perubahan zaman yang terus menggelinding, semangat hijrah justru menjadi sangat relevan untuk menjawab tantangan kekinian.
Dalam konteks kedisinian, makna hijrah perlu diperbarui. Saat ini kita hidup di era banjir informasi, disrupsi teknologi, dan arus budaya global yang masuk tanpa filter.
Umat Islam dituntut berhijrah dari sikap pasif menjadi aktif, dari kebiasaan menyebarkan hoaks menjadi penyebar kebenaran, dari budaya saling tuduh menjadi saling menghargai.
Dari kebiasaan memukul menjadi saling merangkul. Hijrah kedisinian berarti menguasai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetap menjaga akar nilai luhur agama agar tidak larut dalam arus hedonisme (gaya hidup yang menganggap kesenangan itu tujuan utama. Foya-foya) dan individualisme (semaunya sendiri. Cuek tak peduli orang lain. Hidup gue pilihan gue) yang mengikis kepedulian sosial.
Di negara kita, pergantian tahun baru Islam punya khas tersendiri. Sebagai bangsa majemuk, momen ini bukan milik satu golongan saja, melainkan kesempatan untuk memperkuat persatuan. Tradisi lokal seperti kirab budaya, makan bersama, dan pengajian bersama di berbagai daerah, memperlihatkan kepada publik, bahwa Islam di Nusantara ini tumbuh berdampingan dengan kearifan lokal.

Semangat hijrah diterjemahkan sebagai gerakan menjauhi sikap curiga, saling serang, saling saduk, saling tendang, saling fitnah, saling merendahkan, dan memecah belah menuju sikap saling percaya, saling melindungi, dan mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok/ golongan.
Mari jadikan momen ini bukan sekadar seremoni atau libur nasional semata. Jadikan pergantian tahun 1418 hijriah titik balik untuk muhasabah diri. Apa yang sudah diperbaiki, apa yang masih harus ditinggalkan, dan apa yang perlu ditingkatkan. Baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Spirit hijrah mengajarkan bahwa perubahan baik tidak akan datang dengan sendirinya, melainkan butuh keberanian, kesabaran, dan komitmen kuat. Dan ingat, Allah Azza wa Jalla tidak akan merubah suatu kaum kalau mereka tidak mau merubahnya sendiri.
Jadikan tahun 1448 Hijriah sebagai tahun dimana umat Islam Indonesia semakin matang dalam beragama, cerdas dalam berkehidupan, kokoh dalam menjaga persatuan NKRI, dan semakin toleran terhadap sesama umat Islam maupun umat yang lain.
Hijrah yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu menjadikan setiap hari sebagai langkah menuju kehidupan yang lebih bermartabat, beradab, dan membawa manfaat bagi sesama serta bangsa ini.
Akhiron, nilai manusia di mata Allah bukan dari pangkat, harta, atau followers. Tapi di dari seberapa besar manfaat yang dia kasik ke orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. “Khairunnas anfa’uhum linnaas” (HR. At-Thabrani).
Penulis: *) Alumni Ponpes Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Mantan Ketum HMI Cabang Jember Komisariat Sastra Unej. Jurnalis – Penulis Lepas.

















