Oleh : SYAMSUDIN NABILAH*

BERITA tentang Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang Jawa Timur yang dikunjungi hampir 10 ribu wisatawan selama liburan Idul Adha dan Waisak 2026 menjadi kabar yang membanggakan.
Angka yang terdiri dari sekitar 7.900 wisatawan nusantara dan 2.000 wisatawan mancanegara ini menunjukkan bahwa keindahan alam Tumpak Sewu telah berhasil menembus batas daerah, bahkan dikenal hingga mancanegara.
Capaian ini patut diapresiasi sebagai hasil kerja keras promosi, perbaikan citra, dan upaya pengelolaan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Lumajang beserta masyarakat setempat.
Namun, di balik semangat perayaan atas tingginya kunjungan ini, muncul pertanyaan mendasar yang tidak boleh diabaikan. Apakah peningkatan jumlah pengunjung sebesar ini sudah diimbangi dengan kesiapan yang matang?
Pertama, kita harus melihat dampak dari lonjakan wisatawan yang besar. Keindahan alam Tumpak Sewu adalah aset mahal, namun keberadaannya sangat rentan jika tidak dijaga dengan baik. Dengan ribuan orang yang datang silih berganti, masalah seperti sampah yang (misalnya) dibuang sembarangan menjadi ancaman nyata.
Jika pengelolaan kebersihan tidak ditingkatkan secara signifikan, pesona alam yang menjadi daya tarik utama justru bisa memudar. Selain itu, aspek keamanan dan kenyamanan (seperti yang diutarakan penulis di Opini sebelumnya), wajib dipenuhi.
Jalur akses, area istirahat, tempat ibadah, hingga sarana pertolongan pertama harus benar-benar memadai agar wisatawan merasa aman dan betah, bukan malah merasa terbebani karena fasilitas yang tidak mampu menampung arus kunjungan.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana manfaat ekonomi dari pariwisata ini benar-benar terasa oleh masyarakat Lumajang secara luas. Di sinilah pertanyaan krusial muncul, apakah ribuan wisatawan yang datang ini benar-benar memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi daerah, atau justru Lumajang hanya berperan sebagai tempat singgah sementara?
Sering terdengar keluhan sebagian masyarakat Lumajang, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara, datang ke Tumpak Sewu melalui agen perjalanan dari Malang, menginap di hotel-hotel di sana, dan berbelanja kebutuhan wisata juga di kota tersebut. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka Lumajang hanya akan mendapatkan pemasukan dari retribusi masuk kawasan saja, sedangkan keuntungan besar justru mengalir ke daerah lain. Padahal, potensinya sangat besar.
Jika dikelola dengan strategi yang tepat, Lumajang bisa menjadi pusat aktivitas wisata secara utuh-mulai dari kedatangan wisatawan, penggunaan jasa agen perjalanan lokal, menginap di homestay atau hotel milik warga- hingga membeli makanan dan kerajinan tangan khas daerah Lumajang.
Dinas Pariwisata Lumajang telah menyampaikan harapan agar pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendorong wisatawan untuk mengunjungi destinasi lain di luar Tumpak Sewu. Hal ini arahnya tepat, namun perlu diwujudkan dengan langkah nyata.

Pemerintah daerah perlu mendorong dan memfasilitasi masyarakat untuk mengembangkan usaha penginapan, jasa transportasi, dan UMKM lokal agar mampu bersaing dan menjadi pilihan utama wisatawan.
Selain itu, peningkatan kualitas infrastruktur dan promosi paket wisata terpadu yang menggabungkan Tumpak Sewu dengan destinasi lain di Lumajang, sangat diperlukan agar wisatawan mau berlama-lama dan membelanjakan uangnya di kota ini.
Tingginya kunjungan ke Tumpak Sewu adalah berkah sekaligus ujian. Keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa banyak orang yang datang, tetapi seberapa baik alamnya tetap terjaga, seberapa aman dan nyaman wisatawan, seberapa besar kesejahteraan masyarakat lokal meningkat.
Jika tantangan ini bisa dijawab dengan kesiapan dan perencanaan yang matang, maka Tumpak Sewu tidak hanya akan tetap menjadi ikon wisata, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi yang benar-benar membawa kebaikan bagi seluruh warga Lumajang.
Penulis : *)Mantan Ketum HMI Cabang Jember Komisariat Satra Unej. Alumni Ponpes Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Jurnalis – Penulis lepas.
















