Penulis: SYAMSUDIN NABILAH*

Di tengah hiruk pikuk kota membuat kita sering sibuk dengan urusan sendiri. Maka, kisah Ibu Kusmiah dari Brebes menjadi pengingat berharga arti sebuah kemanusiaan yang sesungguhnya.
Dia seorang penjaga parkir. Hidup sederhana. Untuk ke tempatnya bekerja beliau harus menempuh perjalanan jauh. Setiap hari tanpa mengenal lelah demi memenuhi sesuap nasi dan kebutuhan keluarga.
Tidak diduga, dalam kondisi seperti itu, ia justru menunjukkan keberanian dan kejujuran yang mengagumkan saat menggagalkan aksi pencurian uang senilai Rp 3,6 miliar milik H. Kliwon. Ia bagaikan “malaikat penyelamat” bagi pemilik uang miliaran rupiah.
Kisah nyata ini mengajarkan kita semua, bahwa keterbatasan ekonomi tidak pernah menjadi penghalang untuk berbuat baik. Ketika melihat tindakan kejahatan terjadi, Ibu Kusmiah tidak ragu berteriak meminta bantuan, tanpa memikirkan risiko yang mungkin mengancam keselamatannya.
Lebih dari itu, ketika menerima imbalan atas jasanya sebesar Rp. 100 ribu, beliau membagikannya kepada orang-orang yang turut membantunya. Beliau tulus mau berbagi. Tidak mencari keuntungan pribadi. Beliau bertindak karena rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan tempat ia tinggal dan bekerja.
Peristiwa ini menjadi inspirasi, bahwa keamanan lingkungan bukan tanggung jawab aparat keamanan semata. Setiap warga bisa saling menjaga. Jika semua diam dan berpikir “itu bukan urusan saya”, maka tindakan kejahatan akan semakin menggila dan bisa terjadi dimana-mana leluasa.
Ketika rasa peduli dan tolong-menolong seperti yang ditunjukkan Ibu Kusmiah dan warga yang mendukungnya, keamanan dapat terjaga dengan lebih baik. Gotong royong yang menjadi warisan budaya bangsa ini ternyata masih sangat relevan untuk melindungi diri sendiri, sesama, dan lingkungan kita.

Penghargaan yang diberikan oleh pihak kepolisian dan (infonya) hadiah umroh dari pemilik uang selamat Rp 3,6 miliar untuk beliau serta perhatian publik menjadi bukti perbuatan baik akan selalu dihargai. Ibu Kusmiah membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi teladan meski hidup dalam kesederhanaan.
Hal ini juga mengingatkan kita semua, bahwa nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan kepedulian adalah kekayaan yang jauh lebih berharga dan nomer satu setelah harta benda.
Ambillah ibrah dari kisah si nenek ini. Mari mulai menumbuhkan rasa peduli kepada sesama. Tidak menutup mata terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. Berani bertindak sesuai hati nurani.
Jika setiap orang punya hati seperti Ibu Kusmiah, maka lingkungan sekitar akan menjadi tempat yang aman, nyaman, damai penuh kebersamaan. Semoga muncul “Kusmiah Kusmiah” baru di tengah kehidupan yang semakin individualistik, hedonistik, dan materealistik.
Penulis: *)Mantan Ketum HMI Cabang Jember Komisariat Sastra Unej. Alumni Ponpes Annuqayah, Guluk-guluk Sumenep. Jurnalis-Penulis Lepas.



















