PEDOMANINDONESIA.CO.ID, LUMAJANG – Mempertahankan sesuatu yang sudah ada tidak semudah saat merintis, termasuk mempertahankan status sebagai Sekolah Adiwiyata. Hal ini disampaikan Kepala SMPN Sukodono 1 Lumajang, Jawa Timur, Edy Purwanto, S.Pd, MM.
Ia menjelaskan, Sekolah Adiwiyata adalah program yang dicanangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Program ini bertujuan untuk mendorong sekolah-sekolah di Indonesia untuk menerapkan prinsip-prinsip lingkungan hidup dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, sehingga menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
“Tujuan dan aspek Sekolah Adiwiyata untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, meningkatkan kesadaran siswa, guru, dan masyarakat sekolah tentang pentingnya lingkungan bersih dan sehat, rindang, udaranya segar,” ujarnya. Saat ini Sekolah Adiwiyata setiap 5 tahun sekali harus diperpanjang.
Apa yang membedakan Sekolah Adiwiyata dengan sekolah lain? Edy Purwanto menyampaikan, Sekolah Adiwiyata konsentrasinya lebih kepada kebersihan di lingkungan sekolah. Di situ sudah tertata bak-bak sampah khusus sampah kering, sampah basah, sampah plastik dan nonplastik.
“Bahkan kantinnya juga wajib bersih dan higienis. Makanan yang dijual di kantin tidak diperkenankan mengandung bahan pengawet agar tetap sehat. Bungkusnya, pun tidak dari plastik yang sekali pakai dibuang,” paparnya.
Edy Purwanto menyadari, menyandang status Sekolah Adiwiyata banyak membawa dampak positif. Lingkungan bisa benar-benar bersih, makanan yang dijual di kantin sekolah tidak mengadung bahan yang membahayakan bagi kesehatan, sehingga tercipta kondusifitas anak-anak belajar.
“Saya tidak bisa membayangkan kalau kondisi lingkungan sekolah kumuh. Pasti akan mengganggu proses belajar mengajar siswa dan guru. Misalnya selokannya bau, sampah berserakan di sekitar sekolah karena tidak ada tempat sampah yang layak,” paparnya.
Diakuinya, memberikan pemahaman, menanamkan kesadaran hidup sehat dan bersih kepada anak didik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh ketelatenan, kesabaran, dan teladan dari para guru dan pihak sekolah.
“Memang harus dibiasakan kebiasaan hidup bersih, terutama di lingkungan dimana mereka tinggal. Anak-anak tidak bisa serta langsung berubah dan terbiasa buang sampah pada tempatnya, terutama siswa-siswi baru. Perlu dilatih, dibiasakan. Makanya MPLS sangat menguntungkan sebagai wahana memberikan pemahaman akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan di lingkungan sekolah. Kalau sejak dini diajari membuang sampah pada tempatnya, tidak terus menggunakan plastik, maka lama kelamaan akan menjadi kebiasaan baik. Meskipun menghilangkan penggunaan plastik itu sulit, tapi minimal bisa diminimalisir,” tukasnya.
Selain fokus pada Sekolah Adiwiyata, ada kebiasaan baik lain yang diterapkan di sekolah ini, yakni shalat dhuha setiap hari dan shalat jamaah dhuhur. ADM



















