Oleh : SYAMSUDIN NABILAH*
“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” (R.A. Kartini).
Masyarakat Indonesia, lebih-lebih pelajar paham bahwa tanggal 12 April merupakan momen sejarah penting dan spektakuler. Momen untuk mengenang sosok perempuan extraodinary, Raden Ajeng Kartini (R.A. Kartini). Makanya, setiap tanggal ini Indonesia pasti merayakannya dengan mengenakan kebaya seperti yang dipakai Kartini di jamannya.
Perlu digarisbawahi, Hari ini, Kartini bukan sekadar mengenakan kebaya atau menata rambut dengan konde, memakai gincu, lipstik, skincare, atau care care lainnya. Lebih dari itu, kita perlu meneladani semangat juangnya yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Perjuangan Kartini adalah perjuangan melawan kegelapan yang harus terus menyala di hati setiap generasi. Di masa penjajahan Belanda, pendidikan menjadi hak istimewa untuk kalangan tertentu saja.
Kartini saat itu melihat ketidakadilan ini secara terang benderang. Beliau berani menentang tradisi yang membungkam perempuan dan kebijakan kolonial yang mematikan akses ilmu pengetahuan.
Di masa kini, meski akses sekolah sudah terbuka lebar, tantangannya bergeser. Perjuangan “Kartini modern” adalah memastikan bahwa pendidikan tidak berhenti di ijazah. Kartini mengajarkan bahwa belajar adalah seumur hidup. Baik perempuan maupun laki-laki, kita harus terus mengasah kemampuan agar tidak tertinggal zaman.
Pendidikan-sebagai keyakinan Kartini dulu-adalah senjata paling ampuh untuk mengubah nasib. Salah satu warisan terbesar Kartini adalah gagasannya tentang kesetaraan gender. Beliau percaya perempuan memiliki akal budi dan potensi yang sama besarnya dengan laki-laki.
Dalam konteks rumah tangga masa kini, visi ini terwujud dalam hubungan setara. Peran ibu/ istri tidak dilihat sekadar “urusan dapur”, tetapi lebih luas lagi mitra sejajar. Kartini modern adalah perempuan yang cerdas, berwawasan luas, namun tetap hangat dan berkarakter kuat.
Kartini mampu mengelola rumah tangga sekaligus berkarya di luar karena sadar bahwa kemajuan keluarga berawal dari kecerdasan dan ketangguhan ibunya. Kala itu, yang diangkat Kartini bukan senjata berupa rambu runcing, golok, senapan maupun senjata tajam lainnya.
Kartini mengangkat pena. Perlawanannya adalah perlawanan pemikiran dengan menulis surat-surat yang membakar semangat, menunjukkan bahwa penjajahan paling kejam adalah penjajahan atas pikiran.
Di jaman serba canggih seperti hari ini, bentuk ketidakadilan mungkin berbeda. Bisa dalam bentuk diskriminasi, ketimpangan sosial, atau budaya merendahkan satu sama lainnya. Namun, cara memeranginya tetap sama, yakni dengan ilmu, karya, dan suara yang lantang. Kita melawan ketidakadilan dengan menjadi pribadi yang berintegritas dan tidak tinggal diam melihat kebenaran diinjak.
Pesan terpenting yang perlu kita garis bawahi adalah pembangunan bangsa dimulai dari pembangunan daerah. Kartini tidak hanya berpikir tentang dirinya atau Jawa semata, tapi tentang masa depan bangsa ini.
Kini, peran “Kartini-Kartini” di setiap kabupaten dan kota di Indonesia, sangat vital. Seorang perempuan yang berpendidikan dan berjiwa sosial tinggi akan menjadi motor kemajuan desanya atau kotanya. Mereka yang terlibat dalam organisasi wanita, yang menjadi aparatur negara, pengusaha lokal, hingga ibu rumah tangga yang mendidik anaknya dengan baik semua adalah penerus estafet perjuangan Kartini.
Ketika perempuan di daerah diberdayakan, ekonomi akan bergerak, budaya akan terjaga, dan kualitas sumber daya manusia akan meningkat.
Raden Ajeng Kartini telah pergi, namun semangatnya abadi. mengajarkan kita bahwa menjadi wanita yang hebat bukan hanya soal kecantikan fisik, melainkan kecerdasan akal dan keluhuran budi.
Mari jadikan setiap 21 April sebagai pengingat, bahwa tugas kita belum selesai. Teruslah belajar, teruslah berkarya, dan teruslah berkontribusi untuk memajukan daerah dan bangsa Indonesia.
*)Penulis : Alumni Ponpes Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Mantan Ketua Umum HMI Cabang Jember Komisariat Sastra Universitas Jember.


















