Oleh: Mirwanuddin
(Penulis adalah pembelajar pada forum diskusi terbatas (Limited Group) kajian al_qur’an berbasis Ilmu ‘Alat).
Barangkali, kita terlalu cepat menghakimi Adam. Kisah “kejatuhan”nya dari surga sering dibaca sebagai dosa pertama, sebuah noda asal yang menentukan takdir manusia fana di bumi.
Tapi bagaimana jika tragedi itu, dengan segala tipu daya Iblisnya, justru sebuah masterclass dari Yang Maha Guru? Sebuah pelajaran kehidupan yang, tanpa contoh itu, takkan pernah kita pahami.
Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang dungu tanpa petunjuk. Kita tak mampu menciptakan “ilmu kehidupan” dari ketiadaan. Kita butuh uswah—teladan.
Dan kisah Adam adalah teladan paling komprehensif: teladan tentang hasanah (kebaikan) sekaligus syai’ah (keburukan).
Iblis menawarkan sebuah “ajaran yang serba salah”. Buah simalakama. Dimakan, melanggar perintah Tuhan. Tak dimakan, konon, takkan kekal dan tak jadi malaikat (begitu bisik tipu daya si Laknatullah).
Situasi dilematis yang diciptakan untuk mengaburkan garis pembeda (demarkasi) antara benar dan salah. Inilah esensi dari “pohon buruk” (Syajarah Khabisah) yang akarnya tercabut dari bumi, seperti yang diisyaratkan Surah Ibrahim ayat 26. Ajaran yang tak punya pijakan kokoh.
Perbedaan Adam dengan nabi-nabi setelahnya (yang maksum) terletak di sini: Adam adalah “cetak biru (blue print)” pertamanya.
Ia harus menabrak batas, melakukan kesalahan fatal, untuk menunjukkan kepada keturunannya bagaimana rasanya melanggar batas itu.
Dan bukti betapa butanya kita tanpa contoh, terulang lagi pada Qabil. Setelah membunuh Habil, Qabil berdiri bingung di samping mayat saudaranya. Ia tidak tahu cara memperlakukan kematian. Ia lumpuh oleh ketidaktahuan eksistensial.
Lalu, Allah kirimkan seekor gagak. Seekor burung biasa—atau jelmaan Malaikat Jibril yang berdimensi 600 sayap, tak soal—yang mengorek tanah dan menguburkan gagak lain.
Uswah konkret itu datang bukan dari manusia, tapi dari alam, dari Tuhan sendiri. Qabil pun menyesal. Penyesalan itu adalah pengakuan bahwa manusia membutuhkan ilmu Allah, membutuhkan contoh nyata, bahkan untuk hal sesederhana (dan sefundamental) menguburkan jasad.
Maka, Adam yang “tergelincir” itu bukan kegagalan. Ia adalah awal dari ilmu taubat. Ia mengajarkan kita bahwa setelah jatuh ke dalam syai’ah, jalan kembali menuju hasanah selalu terbuka melalui pengakuan dosa: “Rabbana zalamna anfusana…“
Hidup di bumi adalah rentang antara godaan simalakama (ajaran) Iblis, kebingungan Qabil, dan taubat Adam. Kita belajar dari yang salah untuk bisa melakukan yang benar.
Wallahu a’lamu bis_shawaab.


















