Oleh : SYAMSUDIN NABILAH*
KHUSUS di Lumajang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menyimpan catatan politik yang menarik, apalagi Partai yang pernah “digawangi” KH. Abdul Rahman Wahid (Gus Dur) in menang dalam pemilihan legislatif di Jawa Timur.
PKB Lumajang juga menjadi kekuatan yang tak bisa diremehkan dengan mengantarkan 10 kadernya menduduki kursi dewan.
Namun, perjalanan politiknya kadang tidak begitu mulus. Contohnya, pada Pilkada 2024, calon yang diusung PKB yakni Dr. Thoriqul Haq ( Cak Thoriq), kalah oleh Indah Amperawati dalam perebutan kursi pimpinan daerah.
Menariknya, meskipun kalah dalam pilkada Lumajang PKB memilih jalur konstruktif dengan tidak menjadi oposan. Justeru partai yang diinisiasi dan didirikan oleh kalangan ulama ini memilih bermitra dalam membangun dan memajukan pembangunan daerah. Terlepas apakah karena di struktur alat kelengkapan dewan, PKB sudah mendapatkan “kue” pimpinan (wakil ketua dewan) atau tidak, tapi itulah faktanya. PKB tidak menjadi oposisi.
Kini, di tengah dinamika yang terus bergerak, muncul pertanyaan mendasar dan serius : struktur kepemimpinan DPC PKB Lumajang masih dalam masa transisi, belum ada ketua definitif pengganti H. Anang Akhmad Syaifuddin yang telah menjabat dua periode. Muscab yang digelar pada 29 Maret 2026, menjadi momen krusial untuk menjawab berbagai tantangan sekaligus merumuskan arah organisasi ke depan.
YANG PERLU DITATA PKB LUMAJANG
Kedepan, persaingan politik diramal bakal seru dan lebih ketat dengan munculnya new comer yang dengan sekuat tenaga dan pikiran mengambil simpati pemilih. Maka dari itu, Saatnya PKB Lumajang bangkit melakukan penataan tidak sebatas struktur, tapi juga strategi dan semangat juang politiknya.
Menurut penulis, PKB perlu mengambil langkah strategis antara lain : Pertama, kaderisasi lebih diperkuat. Sebagai mana yang disampaikan Mas Anang, regenerasi harus menjadi fokus utama. Kader tidak hanya cukup banyak, tapi harus berkualitas, memahami akar perjuangan partai, sekaligus mampu berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat, terutama generasi muda yang menjadi penentu suara masa depan.
Kedua, mengklirkan posisi politik. Memilih tidak sebagai oposan merupakan keputusan yang bijak demi kepentingan masyarakat luas, namun harus diiringi dengan peran pengawalan yang konstruktif, tegas, dan istiqomah.
PKB Lumajang harus bisa membuktikan bahwa kerja sama dengan (eksekutif) bukan berarti melepaskan fungsi kontrol, apalagi “membebek” setiap policy eksekutif. Mereka harus memastikan setiap kebijakan benar-benar berpihak pada kesejahteraan rakyat.
Program kerja yang akan atau telah dirumuskan di Muscab-mulai dari pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga penanganan lingkungan-harus benar-benar real dan realistis. Betul betul diwujudkan dalam kebijakan nyata, bukan sebatas diskursus (wacana).
Ketiga, memperlebar dukungan dan jaringan. Meskipun PKB sudah mendeklarasikan sebagai partainya ulama atau partainya kiai misalnya, dan memiliki basis kuat di kalangan umat Islam/ santri, PKB tidak boleh berpuas diri. Mereka harus mampu menjangkau kelompok pemilih baru, menyentuh berbagai kepentingan masyarakat, serta menjaga kepercayaan yang telah dibangun selama ini, termasuk merangkul kaum muda.
ANANG AKHMAD SYAIFUDDIN: ANTARA PENGALAMAN dan KEBUTUHAN PERUBAHAN
Muncul pandangan sebagian masyarakat, bahwa kepemimpinan Mas Anang kembali bisa menjadi solusi stabilitas. Selama memimpin, beliau telah membuktikan kemampuannya dalam memelihara kekuatan partai, mengantarkan PKB menjadi salah satu kekuatan utama setelah Gerindra di parlemen, serta membangun hubungan baik dengan berbagai elemen politik. Pengalaman dan jaringan yang dimilikinya menjadi modal berharga dalam menghadapi dinamika politik yang berubah-ubah.
Namun di sisi lain, kalau Mas Anang kembali di amanahi sebagai Ketua DPC PKB Lumajang untuk ketiga kalinya, juga menimbulkan pertanyaan. Apakah ini keputusan terbaik bagi kemajuan organisasi?
Karena berjalannya waktu, mindset, stratag, model kepemimpinan yang sudah berlangsung lama bisa jadi tidak relevan dengan tantangan masa kini. Apalagi, Mas Anang sendiri berharap munculnya pemimpin baru yang mampu membawa perubahan dan kemajuan lebih baik (terlepas apakah ucapannya hanya pemanis dibibir atau memang dari lubuk hatinya yang paling dalam. Kita tidak tahu).
Jika kemudian muncul pertanyaan lagi, apakah wis wayahe PKB Lumajang melakukan regenerasi? Jawabannya menurut penulis “sudah saatnya”. Regenerasi bukan sekadar pergantian nama, tapi tentang refresh pemikiran, strategi dan taktik, pola kerja.
Ketika sudah dua periode memimpin, maka ide baru, energi baru mutlak dibutuhkan. Pemimpin baru diharapkan membawa pendekatan yang lebih inovatif, kreatif, mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta memastikan partai tetap dekat rakyat dan benar benar dalam posisi membela kepentingan rakyat.
Regenerasi juga sangat urgen bagi kader-kader muda untuk berkarya dan semakin bersemangat memegang amanah yang lebih besar.
SOAL KEPEMIMPINAN PEREMPUAN
Unsur pimpinan tertinggi perempuan di partai politik masih jarang. Meskipun ada masih bisa dihitung dengan jari. Padahal, pemimpin perempuan boleh jadi membawa perspektif berbeda, bahkan ada bilang lebih peka terhadap masalah sosial, kesejahteraan keluarga, pendidikan anak, dan kesehatan masyarakat.
Selain itu, kehadiran pemimpin perempuan (jika benar-benar terjadi di PKB) juga menjadi bukti bahwa PKB benar-benar menghargai kesetaraan, membuka kesempatan yang sama bagi seluruh kader tanpa membedakan jenis kelamin.
Ini bisa menjadi modal politik penting untuk memperluas dukungan, terutama di kalangan perempuan yang merupakan bagian besar dari pemilih.
Walaupun ada pandangan lain, bahwa sebenarnya bukan masalah jenis kelaminnya, tapi bagaimana integritasnya, kompetensinya, ke istiqomahnya, loyalitasnya, dan komitmennya memajukan partai dan membela rakyat.
Perlu diketahui, Muscab PKB Lumajang pada 29 Maret 2026, bukan sekadar agenda rutin organisasi, tapi titik balik yang menentukan masa depan partai.
Apapun hasilnya, baik mempertahankan kepemimpinan lama (Anang Akhmad Syaifuddin), memilih kader baru, bahkan mempersilahkan pemimpin perempuan, semuanya harus bermuara satu tujuan : menjadikan PKB Lumajang sebagai kekuatan politik yang tetap diperhitungkan, adaptif, dan senantiasa berpihak pada rakyat.
Regenerasi sebetulnya merupakan kebutuhan bukan ancaman. Stabilitas bukan berarti berhenti berubah, tapi kemampuan untuk berubah sambil tetap memegang teguh nilai-nilai perjuangan. PKB Lumajang tidak hanya akan mempertahankan posisinya atau menjadi runner-up, tapi mampu meraih kemenangan.
Selamat dan sukses Ketua DPC PKB Lumajang mendatang siapapun anda. Jadilah pembela rakyat bukan beban masyarakat.
*)Penulis : Alumni Ponpes Annuqayah Guluk-guluk Sumenep dan Jurnalis. Mantan Ketua Umum HMI Cabang Jember Komisariat Sastra Unej.














