Oleh : SYAMSUDIN NABILAH*

BERITA di Kabarnusa24.com edisi Sabtu, 6 Juni 2026 dan Pedomanindonesia.co.id, mengenai kegiatan Workshop Training for Trainer (TFT) oleh PKS Kabupaten Lumajang, sangat menarik dan perlu diapresiasi sebagai terobosan positif.
Pernyataan Drs. H. M. Khusnul Khuluk, anggota DPRD Jatim Fraksi PKS, bahwa pembinaan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan—bukan hanya menjelang pesta demokrasi seperti Pemilu, Pilkada, maupun Pilpres—menjawab keresahan masyarakat selama ini.
Tidak sedikit partai politik hanya terlihat aktif dan dekat dengan rakyat saat menjelang masa pemilihan kemudian menghilang setelah kursi diduduki. Program pembinaan pekanan dan bulanan yang mencakup wawasan kebangsaan, keagamaan, sosial, hingga kewirausahaan ini membuktikan bahwa PKS ingin hadir dan bermanfaat bagi masyarakat sepanjang masa, bukan sekadar mesin pencari suara.
Khususnya pada bidang pemberdayaan ekonomi dan UMKM yang menjadi fokus utama, upaya melatih kualitas produk, pengemasan, pemasaran, hingga pengenalan teknologi digital bagi generasi muda adalah langkah yang tepat. Potensi daerah seperti hasil bumi di Lumajang, misalnya pisang, sangat sayang jika tidak diolah menjadi produk bernilai jual tinggi.
Namun demikian, di tengah apresiasi ini, ada hal penting yang perlu menjadi perhatian kita bersama termasuk PKS, agar program ini benar-benar berhasil dan tidak sekadar seremonial atau kegiatan sesaat. Pembinaan UMKM tidak boleh berhenti hanya pada pelatihan atau workshop, tetapi harus dilakukan secara berkesinambungan dengan sistem pendampingan yang kuat.
Kita sering menyaksikan kenyataan pahit, pascapelatihan, peserta diberikan seperangkat alat produksi. Tak lama berselang alat-alat tersebut malah dijual oleh penerima karena mereka tidak memiliki dana untuk membeli bahan baku lanjutan, tidak tahu ke mana harus menjual hasil produksinya, atau kehilangan bimbingan setelah kegiatan selesai.
Hal ini tentu sangat disayangkan dan membuang energi serta sumber daya yang sudah dikeluarkan. Oleh karena itu, rangkaian pembinaan ini harus utuh, meliputi pelatihan, permodalan, pendampingan berkelanjutan, hingga jaminan akses pemasaran.
Satu hal yang paling krusial dan menjadi nyawa usaha adalah akses permodalan. Dalam berita disebutkan, bahwa tidak ada suntikan dana langsung dari partai. Masyarakat diarahkan ke lembaga perbankan serta semangat gotong royong. Langkah ini perlu diperkuat dan difasilitasi secara nyata.

Sebab, masalah utama pelaku UMKM di daerah saat ini adalah sulitnya mendapatkan modal dengan biaya murah. Akibatnya, banyak yang terjebak meminjam kepada rentenir, “Bang Titil”, atau bahkan terjerat pinjaman dari lembaga yang berkedok koperasi dengan bunga mencekik leher dan cara penagihan yang tidak manusiawi.
Ke depan, diharapkan jaringan dan kerja sama yang dimiliki PKS dapat membuka jalan agar para pelaku usaha binaannya bisa lepas dari jeratan utang lintah darat tersebut. Partai dapat berperan menjadi jembatan yang memudahkan mereka mengakses pembiayaan resmi yang aman dan murah, sekaligus mendampingi usaha mereka tumbuh dari yang kecil menjadi besar.
Jika seluruh rangkaian pembinaan ini dilakukan secara utuh dan terus-menerus, bukan sekadar seremonial, maka tujuan menjadikan masyarakat mandiri secara ekonomi sebagaimana diharapkan akan tercapai dengan nyata, dan kehadiran partai pun akan semakin dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
Penulis : Mantan Ketum HMI Cabang Jember Komisariat Satra. Pemilik Warung (UMKM) Patih Nambi. Jurnalis-Penulis Lepas.


















