Oleh: Mirwanuddin**
Di Lumajang, Jawa Timur, Gunung Semeru memuntahkan lavanya. Itu bukan pemandangan yang kacau atau kebosanan, melainkan demonstrasi paling jujur dari hukum Illahi.
Gunung itu, benda mati yang tak berakal, namun tunduk total pada seruan Sang Pencipta (sunnatullāh): tekanan magma, hukum fisika, siklus geologi.
Ia, tanpa pilihan, menggenapi seruan Sang Pencipta:”kalian mau patuh secara suka_rela ataukah dengan terpaksa?”. Kemudian langit dan bumi menjawab: “Ātaynā ṭā’i‘īn”—Kami datang dalam keadaan patuh setulus hati.
Kepatuhan alam semesta (kosmik) yang dahsyat inilah yang memaksa akal manusia untuk bertanya. Jika alam saja tunduk dengan presisi yang menakutkan, bagaimana seharusnya manusia—makhluk yang diberi nalar—merespons perintah Allah?
”Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs, an_Nur: 51)
Makna Metafora JIBAAL (Gunung ?)
Jawaban itu tersembunyi, barangkali, dalam Surah Saba’ (ayat 10).
Ketika Allah menyeru, “Yaa Jibālu, awwibī ma’ahu wa al-Ṭayr,” kita tergoda melihat gunung dan burung secara harfiah, sebuah mukjizat statis.
Namun, akal yang didorong oleh tadabbur (perenungan) akan mencari isyarat yang lebih dinamis.
Di hadapan kekuatan Semeru, kita sadar bahwa gunung (Jibāl) dalam teks itu adalah kiasan yang paling tepat bagi Teknokrat.
Ia adalah: ‘Alīmuhum wa Sayyiduhum—para ahli yang memiliki keteguhan, ketinggian ilmu, dan tanggung jawab untuk merespons kekuasaan alam.
Kisah Dawud, dengan demikian, berubah makna dari “mukjizat pasif” menjadi mandat konstruksi.
Fasa ayat: Alannā lahu al-ḥadīd bukan lagi sebagai mu’jizat atau sihir. Ia mengajarkan “ilmu metalurgi (ilmu peleburan logam)”—fondasi untuk menopang keselamatan dan teknologi.
Begitu dengan istilah Al-Ṭayr , bukan saja berarti burung. Tapi, maknanya bisa teknologi penerbangan—drone, satelit, atau pesawat terbang yang digunakan para ahli untuk memantau ancaman dan memetakan kerentanan maupun pertahanan dan keamanan.
Artinya, di balik letusan Gunung Semeru menuntut kepatuhan intelektual manusia.
Kepatuhan ini diuraikan dalam perintah krusial berikutnya: “Wa qaddir fī al-Sard”—ukur, hitung, dan anyamlah (rakitlah) dengan cermat.
Kelalaian dan ketidak_presisian adalah bentuk ketidakpatuhan kepada perintah ini. Membuat early warning system (EWS) yang ceroboh, merancang shelter yang salah hitung—semua adalah amal ghairu ṣāliḥ (perbuatan tidak tepat).
Di titik ini, “Wa’malū Ṣāliḥan” (Dan berbuatlah presisi dalam kebaikan) tidak bisa dipisahkan dari etika rekayasa. Perbuatan tepat atau kebaikan (ṣhalāḥ) seorang ahli di hadapan ancaman lahar adalah kualitas pekerjaannya. Ia adalah iḥsān, kesempurnaan dalam mitigasi bencana.
Maka, ketika kita melihat kepatuhan Semeru yang dahsyat, respons kita bukan hanya sekadar Subḥānallāh yang terucap. Respons yang sesungguhnya adalah tindakan presisi (tepat)—mewujudkan amal ṣāliḥ—sebagai wujud tertinggi dari rasa syukur dan pengakuan kita atas tertibnya alam semesta. Bagi para teknokrat, itu adalah ibadah.
Wallahu a’lamu bis_shawaab.
**Penulis adalah pembelajar pada forum diskusi terbatas (limited group) kajian al_qur’an berbasis Ilmu ‘Alat.
Ia merupakan alumni IMM FISIP Unmuh Malang.


















