LUMAJANG,Pedomanindonesia – Di balik tawa dan candaan, ada luka yang tak terlihat. Begitulah perasaan banyak santri ketika cara pandang masyarakat terhadap dunia pesantren kini mulai bergeser.
Beberapa tayangan hiburan di televisi kerap menggambarkan kehidupan santri dengan cara yang keliru seolah santri itu kolot, lucu, atau tertinggal zaman. Padahal di balik sarung dan kitab yang mereka pelajari, tersimpan nilai ketulusan dan semangat juang yang tak ternilai.
Baca juga: Pawai Kreatif Hari Santri Nasional 2025 Di PP Annur Azzahra Lentera Santri di Malam Yang Dingin
“Kami tidak marah,” ucap seorang santri perempuan dengan suara pelan. “Cuma sedih, karena perjuangan kami dianggap lucu,” Selasa (21/10/2025) ketika berlangsungnya pawai dilingkungan pondok pesantren Annur Azzahra kabupaten Lumajang Jawa Timur.
Mereka yang setiap pagi bangun sebelum subuh, mengaji di bawah cahaya redup, belajar tanpa gawai, menahan rindu pada keluarga semua dijalani dengan keikhlasan.
Sebuah pengorbanan yang tidak semua orang pahami.
“Kalau mereka tahu bagaimana susahnya kami menghafal satu halaman Al-Qur’an di tengah lapar dan kantuk,” ujar seorang ustaz muda di pesantren, “mungkin mereka akan lebih menghormati perjuangan kami.”

Santri adalah cermin ketenangan dan kesabaran. Dihina tidak marah, direndahkan tidak membalas. Mereka justru menunduk, melangkah, dan terus berjuang karena tahu kehormatan sejati bukan untuk dipamerkan, tapi dijaga di hadapan Tuhan.
Bagi mereka, menjadi santri bukan sekadar belajar agama. Ini tentang menanamkan nilai moral, membangun akhlak, dan menyalakan cahaya kejujuran di tengah gelapnya zaman.
Baca juga: Ikhtiar Keluar dari Lingkaran Kemiskinan 65 Titik Sekolah Rakyat Siap Diselenggarakan
Mereka tidak butuh pujian, hanya pengertian. Karena di setiap lantunan doa dan hafalan, tersimpan harapan agar negeri ini tetap dijaga oleh tangan-tangan yang ikhlas tangan para santri. ADM-SOF



















