PEDOMAN INDONESIA, LUMAJANG– Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Lumajang turun ke jalan dalam aksi demonstrasi di depan kantor DPRD Kabupaten Lumajang,Senin (24/3/2025) . Aksi ini diinisiasi oleh sejumlah organisasi mahasiswa seperti PMII, HMI, IMM, dan lainnya untuk menyuarakan aspirasi terkait kebijakan yang mereka nilai merugikan masyarakat, termasuk penolakan terhadap UU TNI.
Sejak pagi, massa sudah berkumpul di Stadion Lumajang sebelum bergerak menuju kantor DPRD pada pukul 09.00 WIB. Aksi awalnya berjalan damai hingga ketegangan meningkat setelah lebih dari dua jam berlangsung.
Dugaan Kekerasan Mencoreng Aksi Damai
Kericuhan pecah setelah salah satu mahasiswa dari Universitas Widyagama mengalami luka di bagian pelipis akibat dugaan kekerasan oleh aparat keamanan. Maskur, mahasiswa STIH Jenderal Sudirman Lumajang yang bertindak sebagai koordinator lapangan, menyayangkan insiden tersebut.
“Saya melihat mahasiswa dari Widyagama terkena pukulan kayu yang meleset ke pelipisnya. Sebagai Korlap, saya tidak bisa tinggal diam dan berusaha membela teman saya,” ungkapnya.
Selain itu, dua mahasiswa lainnya juga dilaporkan mengalami kekerasan. Dugaan sementara, insiden ini melibatkan oknum Satpol PP dan aparat keamanan yang bertugas mengawal jalannya demonstrasi.
LSM LBSI Siap Dampingi Mahasiswa
Menanggapi insiden ini, Ketua LSM Lumajang Bergerak Satu Indonesia (LBSI), Slamet Efendi, menyatakan pihaknya akan mengawal kasus ini hingga tuntas.
“Kami menerima banyak aduan dari masyarakat terkait tindakan represif terhadap mahasiswa. Sebagai bentuk kepedulian, kami akan bersurat secara resmi kepada pihak terkait serta memberikan pendampingan hukum bagi para korban,” tandasnya.
Ia juga menegaskan bahwa kebebasan berpendapat merupakan bagian dari demokrasi yang harus dihormati.
“Aksi mahasiswa adalah bagian dari demokrasi. Kami berharap insiden ini menjadi pelajaran agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” imbuhnya.
Harapan untuk Kondusifitas Lumajang
Di tengah polemik ini, masyarakat berharap agar situasi di Lumajang tetap kondusif. Semua pihak diharapkan mengedepankan dialog dan menghindari kekerasan dalam menyikapi perbedaan pendapat.
Kini, publik menanti langkah konkret dari pihak berwenang dalam menyelesaikan dugaan kekerasan terhadap mahasiswa, demi menjaga iklim demokrasi yang sehat dan berkeadilan. ADM


















