PEDOMANINDONESIA.CO.ID – Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, segera mengirimkan Surat Edaran kepada bupati dan wali kota se-Jawa Barat untuk melarang penebangan pohon, terutama yang berpotensi memicu bencana dan memiliki diameter lebih dari dua meter.
Aturan ini menjadi kebijakan transisi sampai Peraturan Gubernur Jawa Barat baru diselesaikan pada Januari 2026, setelah Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 11 Tahun 2025 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan berakhir pada 30 November 2025.
KDM menegaskan langkah ini penting karena kondisi hutan di sejumlah daerah seperti Garut, Bogor, dan Sukabumi sudah memprihatinkan. “Bencana di Aceh dan Sumbar itu bisa terjadi di kita, bukan nakut-nakutin,” ungkapnya.
Selain Surat Edaran, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat juga menyiapkan moratorium atau penghentian sementara penebangan hutan di kawasan yang berisiko bencana.
“Pemda Provinsi Jawa Barat akan segera membuat moratorium larangan penebangan areal hutan yang memiliki potensi terjadinya musibah. Moratorium akan disiapkan dan secepatnya diluncurkan,” ujarnya.
KDM menilai bahwa menjaga pohon jauh lebih penting dibanding hanya menanam pohon baru. Ia bilang, menanam seribu pohon belum tentu seratus tumbuh, tetapi menebang seribu pohon pasti langsung menghilangkan manfaat lingkungan.
“Kita tinggal di bumi, jadi bumi ini harus kita rawat dan jaga, bukan kita rusak,” ucapnya.
Kondisi hutan di Jawa Barat disebut terus menurun, hanya sekitar 20 persen yang masih utuh, sementara 80 persen mengalami kerusakan.
Karena itu, pemerintah akan melibatkan masyarakat dalam pelestarian dengan memberi kesempatan mengelola satu sampai dua hektare hutan, menanam dan merawat pohon, serta menerima upah harian sekitar Rp50.000.
Pohon yang ditanam akan dipilih antara jenis yang tidak ditebang seperti jamuju dan tanjung, serta pohon produktif seperti petai, jengkol, dan nangka. Pemerintah juga menyiapkan diskusi dengan Perhutani untuk menentukan lahan yang tersedia.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap daerah terdampak di Sumatera Barat, KDM akan mengirim bantuan logistik dan dana sebesar Rp7 miliar menggunakan dua pesawat Susi Air. “Logistik kita kirim ke daerah yang selama ini masih sulit terjangkau,” katanya.
sumber : suara.com

















