Oleh : SYAMSUDIN NABILAH*
Musyawarah Kabupaten (Mukab) Kadin Lumajang baru saja berlangsung ( 21 April 2026). Agus Setiawan kembali diberikan mandat untuk memimpin organisasi ini selama lima tahun ke depan. Keputusan ini membawa harapan besar dan baru, terutama karena komitmennya untuk melibatkan lebih banyak pengusaha muda dalam struktur kepengurusan.
Langkah ini menjadi sangat strategis untuk menjawab tantangan dan memaksimalkan potensi yang ada di Lumajang di tengah era digitalisasi di berbagai lini.
Meskipun ada new hope, ada beberapa tantangan nyata yang harus dihadapi Kadin Lumajang. Banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang masih berjalan sendiri-sendiri, belum merasakan manfaat nyata dari keberadaan organisasi ini, terutama di tingkat masyarakat paling bawah (koreksi jika ini salah).
Potensi sumber daya alam (SDA) yang melimpah di Lumajang juga belum dimanfaatkan secara optimal melalui peran Kadin.
TANTANGAN ERA DIGITAL
Era digital merupakan sebuah keharusan. Bagi UMKM, kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang. Namun, kenyataannya masih banyak pelaku usaha kecil yang kesulitan mengakses informasi, pelatihan, dan infrastruktur digital.
Kadin Lumajang harus berperan aktif sebagai jembatan. Melalui keterlibatan pengusaha muda yang lebih menguasai perkembangan teknologi, organisasi ini dapat merancang program-program yang relevan, antara lain: pelatihan digitalisasi usaha semisal pembuatan toko online, manajemen medsos dan lainnya, menjadi wadah yang menghubungkan pelaku usaha lokal dengan pasar nasional maupun global.
Dengan demikian UMKM bisa “naik kelas” dan bersaing di pasar yang lebih luas, tidak jalan di tempat.
Sebagai kritik konstruktif, bahwa manfaat keberadaan Kadin belum dirasakan secara merata, terutama pengusaha kecil di desa-desa. Mereka survive sendiri. Tak ada bimbingan, apalagi jaringan dan akses modal.
Oleh karena itu, Kadin Lumajang perlu memperluas jangkauan ke tingkat kecamatan dan desa-desa terpencil, Entah itu namanya cabang atau pokja kelompok kerja.
Disamping itu, Kadin diharapkan memberikan pendampingan, bimbingan langsung terkait manajemen usaha, perizinan, akses ke lembaga perbankan/keuangan serta menjadi bridjing untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dalam menyelesaikan segala problematika yang dihadapinya.

SDA LUMAJANG MELIMPAH
Seperti kita ketahui bersama, bahwa Lumajang memiliki kekayaan alam melimpah. Baik dari hasil pertanian dan perkebunan seperti padi, ubi jalar, kopi, Pisang Mas Kirana, Susu Kambing Senduro, Ubi Madu Pasrujambe, salak, bahan galian C (pasir, batu,) dan destinasi wisata.
Nah, Kadin Lumajang dalam hal ini harus berperan adanya hilirisasi industri. Bahan baku menjadi produk jadi atau setengah jadi, membuat kemitraan, menjebatani petani, pengrajin dengan pasar modern, bahkan kalau perlu ke pelaku ekspor. Promosikan produk unggulan lewat pameran agar produk Lumajang dikenal lebih luas.
Dengan demikian, kekayaan alam daerah tidak hanya dinikmati sementara, tetapi dapat menjadi sumber kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Kepemimpinan Agus Setiawan untuk kali kedua menjadi momentum penting. Dengan dukungan pengusaha muda dan komitmen untuk bekerja nyata, Kadin Lumajang memiliki peluang besar untuk melakukan transformasi menjadi organisasi inklusif, dinamis, dan modern.
Kadin Lumajang harus menjadi penggerak yang nyata, mengantarkan UMKM masuk ke era digital, menjangkau hingga ke pelosok desa, dan mengubah potensi alam menjadi kemakmuran bersama. Jika tidak begitu, Kadin Lumajang dikhawatirkan sekadar simbol.
Semoga apa yang dicita-citakan Agus Setiawan terwujud dan berdampak positif bagi pembangunan Kabupaten Lumajang.
Selamat dan Sukses Mas Agus Setiawan dipercaya kembali sebagai Ketua Kadin Lumajang.
*)Penulis : Mantan Ketua Umum HMI Cabang Jember Komisariat Satra, Universitas Jember. Alumni Ponpes Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep.
















