LUMAJANG – Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang, terus menerus menggalakkan acara orientasi pendampingan adanya Pos Kesehatan Pondok Pesantren (Poskestren).
Kali ini ada tiga pondok pesantren yang diundang untuk acara pendampingan ini. Ketika pesantren yang dimaksud antara lain, Pontren Bahrus Syifa Jogotrunan, Ponpes Manarul Qur’an Kutorenon Sukodono, dan Ponpes Bustanul Ulum Sawaran Kulon Kedungjajang.
“Yang kita undang itu pengurus Ponpes, Santri Husadanya masing-masing 5 orang dan dari pihak puskesmas”, ujarnya.
Menurut dinas kesehatan menyampaikan, dengan adanya pendampingan ini diharapkan munculnya kegiatan di lingkungan pondok pesantren yang bersifat promotif dan preventif.
Dijelaskan, materi-materi yang akan diberikan kepada pengasuh dan Santri Husada terkait dengan kegiatan bagaimana membentuk Poskestren, bagaimana melakukan advokasi ke pimpinan pondok agar di pesantren tersebut benar-benar ada Poskestrenny.
“Kemudian ada juga bahan PHBS atau hidup bersih dan sehat, juga terkait dengan kesehatan reproduksi, pentingnya konsumsi tablet tambah darah, mengenai keseimbangan gizi, tentang kesehatan lingkungan. Juga terkait dengan program baru dari Provinsi Jawa Timur, yakni program IKI PESAT (Inisiatif, Kolaboratif , Inovatif, Pesantren Sehat. Lalu screening TBC yang perlu dilakukan ke semua lingkungan penghuni di situ untuk mengetahui sejak awal siapa saja yang berisiko maupun yang menderita TBC. Dan yang terakhir mengenai bagaimana melakukan survey mawas diri untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi oleh pondok pesantren Di samping itu kami berikan materi bagaimana cara melakukan musyawarah masalah pondok pesantren yang membahas hasil survei mawas diri itu untuk menentukan langkah-langkah pemecahan masalah,sehingga secara bertahap asal-masalah yang ditemui Ponpes itu bisa terurai”, ujarnya.
Dia juga menyampaikan, Pondok Pesantren yang dulunya terkesan kumuh kini sudah banyak berubah. Bahkan data terakhir yang dimiliki Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang ada sekitar 60 pondok pesantren yang memiliki Poskestren.
Dalam hal pengawasan poskestren, terima kasih kata dia, kerjasama dengan Kemenag dan Puskesmas terdekat. Puskesmas inilah yang melakukan pembinaan secara berkala.
Diakuinya, bahwa dalam hal pembinaan Poskesren ada beberapa kendala yang menjadi tantangan untuk di tangani. Kendala yang dimaksud misalnya tentang kebersihan lingkungan yang perlahan-lahan mulai membaik, penyediaan air bersih untuk mandi dan minum, serta makanannya yang perlu banyak mengandung protein.
“Yang agak sulit dan perlahan lahan harus dibenahi adalah tingkat kepadatan kamar hunian santri. Ini butuh cukup lama untuk menyediakan lagi ruang hunian baru”, pungkasnya.
Pondok pesantren di Lumajang itu memiliki Poskestren sekarang sudah 53 persen dari jumlah pesantren sebanyak 156 pesantren.
Diharapkan kedepannya semakin banyak pondok pesantren yang memiliki poskestren. Dengan adanya banyak poskes tren akan membantu dan meringankan pihak Puskesmas pihak kesehatan untuk mempromosikan pentingnya kesehatan bagi masyarakat.
“Masyarakat sekitar, minimal 100 meter dari lokasi pondok pesantren juga ikut dibina dalam kesehatannyq”, imbuhnya. Ad




















