Oleh: Mirwanuddin**
Kisah Qarun dalam Al-Qur’an, utamanya Surah al_Qashas: 76–78 sering kali kita dengar sebagai narasi kuno tentang kekayaan yang berujung pada kebinasaan. Namun, jika kita amati lebih dalam, cerminan Qarun tidak hanya ada di masa lalu, melainkan berkelebat di sekitar kita, khususnya dalam fenomena korupsi yang marak terjadi di Indonesia.
Kisah ini bukan sekadar dongeng, melainkan sebuah metafora yang sangat relevan.
Harta Karun dan Posisi Kunci
Al-Qur’an mengisahkan betapa berlimpahnya harta Qarun. Kunci-kunci gudang hartanya begitu berat hingga harus dipikul oleh sekelompok orang kuat.
Diksi “mafaatihah” (kunci-kunci) di sini bisa kita maknai secara harfiah sebagai kunci gudang, tetapi juga bisa sebagai “posisi kunci” atau “jabatan strategis”.
Inilah titik singgungnya dengan para koruptor di Tanah Air. Mereka tidak hanya mengumpulkan harta, tetapi juga menguasai “kunci-kunci” kekuasaan yang memungkinkan mereka untuk “membuka” pintu-pintu dana publik.
Mereka berada di posisi-posisi penting yang seharusnya mengabdi, tetapi justru menggunakannya untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Kekuasaan yang seharusnya menjadi amanah, kini menjadi alat untuk meraup keuntungan pribadi.
Kesombongan dan Kufur Nikmat
Qarun menjadi sombong. Ia merasa hartanya adalah hasil dari kecerdasannya, bukan karunia dari Tuhan. Ia menolak untuk berbagi dan berlaku zalim. Sikap ini identik dengan para pelaku korupsi. Mereka sering kali merasa kebal hukum karena merasa memiliki pengaruh dan kekuasaan.
Mereka lupa bahwa jabatan dan kekuasan itu adalah amanah dari rakyat, bukan milik pribadi yang bisa diatur sesuka hati.
Sikap kufur nikmat ini tidak hanya terlihat dari penolakan mereka untuk bersyukur, tetapi juga dari perilaku yang jauh dari nilai-nilai kejujuran dan keadilan. Korupsi adalah bentuk nyata pengkhianatan terhadap amanah dan pengingkaran terhadap kebenaran.
Akhir yang Tragis: Tenggelam ke dalam Bumi
Kisah Qarun berakhir tragis. Ia beserta seluruh hartanya ditenggelamkan ke dalam bumi. Ini adalah simbol kehancuran total. Harta yang dikumpulkan dengan cara yang salah tidak akan membawa keberkahan, justru akan menjadi beban dan sumber malapetaka.
Dalam kasus korupsi, kehancuran ini juga terjadi. Harta yang dikumpulkan haram akan ditarik kembali oleh negara. Pelaku korupsi akan kehilangan kehormatan, kebebasan, dan bahkan nama baiknya. Keluarga dan keturunannya pun seringkali ikut menanggung malu.
Bahkan jika mereka tidak dihukum di dunia, kehancuran spiritual dan moral akan menanti mereka. Mereka hidup dalam kegelisahan karena menyadari bahwa kekayaan mereka dibangun di atas penderitaan orang lain.
Kisah Qarun adalah peringatan abadi bagi kita semua. Bahwa harta yang diperoleh dengan cara yang salah dan digunakan untuk kesombongan akan membawa kehancuran.
Fenomena korupsi di Indonesia adalah cermin nyata dari kisah Qarun modern. Sudah saatnya kita belajar dari sejarah, agar kekayaan dan kekuasaan tidak lagi menjadi alat untuk kehancuran, melainkan jalan untuk membawa kebaikan dan keberkahan bagi bangsa.
Lebih dari sekadar cerita, Qarun adalah simbol dari sifat-sifat buruk yang bisa menjangkiti siapa pun. Kekayaan yang ia miliki, dan “mafaatihah” (kunci-kunci) yang ia kuasai, bisa dimaknai sebagai:
Kekuasaan dan Posisi Kunci: “Mafaatihah” tidak hanya merujuk pada kunci fisik, tetapi juga posisi strategis dan kekuasaan yang memungkinkan seseorang untuk mengakses dan menguasai sumber daya.
Sifat Koruptif: Sifat sombong, serakah, dan kufur nikmat yang dimiliki Qarun adalah cerminan sempurna dari mentalitas koruptor. Mereka merasa kekayaan dan kekuasaan adalah hak mereka sepenuhnya, bukan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Kehancuran Hakiki: Tenggelamnya Qarun ke dalam bumi adalah metafora untuk kehancuran moral dan spiritual yang terjadi pada para koruptor, di mana harta yang mereka kumpulkan akan menjadi sumber malapetaka, bukan kebahagiaan.
Dengan demikian, kisah Qarun mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa besar kebermanfaatan yang bisa kita berikan.
Kisah ini menjadi peringatan abadi bahwa jika harta dan kekuasaan tidak dikelola dengan benar, ia akan membawa kehancuran baik di dunia maupun di akhirat.
Kisah Qarun, dengan segala maknanya, adalah cermin yang relevan di setiap zaman, termasuk saat ini, untuk mengingatkan kita agar tidak menjadi “Qarun-Qarun modern” yang terjerumus dalam lubang keserakahan dan korupsi.
Wallahu a’lamu bis_shawwab.
**Penulis adalah alumni FISIP Unmuh Malang.



















