Oleh: Mirwanuddin**
Dalam banyak tradisi keilmuan, manusia selalu mencari poros—titik pusat yang memberi arah, makna, dan keseimbangan hidup. Di tengah derasnya informasi dan kompleksitas zaman, poros itu sering bergeser: kadang pada ambisi, kadang pada materi, kadang pada hal-hal yang hanya sementara.
Dalam khazanah Islam, Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan, “Al-Qur’aanu imaamiy…”—Al-Qur’an adalah imamku, pemimpinku. Itulah “as_shamad”.
Kalimat pendek ini mengandung pesan besar: jadikan wahyu sebagai pusat gravitasi yang menata gerak langkah kita. Sebab setiap hidup butuh arah, setiap arah butuh pusat (poros).
Konsep inilah yang dapat disebut sebagai “Poros dan Jari-jari Kehidupan”.
Al-Qur’an menjadi poros, sementara segala aktivitas manusia—kerja, keluarga, ilmu, sosial, moral, bahkan politik—adalah jari-jari yang mengarah kembali kepadanya.
Ketika ikatan porosnya kuat, maka jari-jarinya pun lurus dan kokoh. namun, ketika porosnya kendor dan menghilang, maka, roda kehidupan mudah oleng.
Para tokoh besar Islam sejak era klasik sudah menekankan hal ini.
Imam al-Ghazali menggambarkan Al-Qur’an sebagai “cahaya yang menghidupkan hati” dan “sumbu yang menyalakan pelita akal”.
Ibn ‘Arabi melihatnya sebagai “peta maknawi” yang menuntun manusia menemukan dirinya.
Al-Razi menekankan fungsi Al-Qur’an sebagai “mīzān”—timbangan yang meluruskan cara berpikir.
Bahkan mufassir besar seperti al-Tabari, al-Zamakhsyari, dan Fakhruddin al-Razi sepakat pada satu hal: Al-Qur’an bukan hanya bacaan, tetapi pedoman yang mengatur orientasi moral dan akal manusia.
Namun penting digarisbawahi: poros ini bukanlah Dzat Allah, melainkan ajaran Allah. Kita terinspirasi oleh sabda Nabi, “Tafakkaruu fī khalqillāh wa lā tafakkaruu fī dzātillāh”—renungkanlah ciptaan dan petunjuk-Nya, bukan Dzat-Nya.
Karena itu, pusat renungan kita adalah Al-Qur’an sebagai As-Shamad: tumpuan tempat manusia bersandar mencari makna.
Dalam bahasa antropolog, James Scott, manusia membutuhkan “moral compass”—kompas moral—untuk tetap waras menghadapi labirin (liku-liku) kehidupan modern.
Bagi umat Islam, kompas itu sudah diberikan: Al-Qur’an sebagai poros nilai, bukan sekadar bacaan ritual. Al_qur’an adalah as_shamad sebagai poros (Axis) roda kehidupan yang menstabilkan goncangan hidup.
Mungkin itulah rahasia mengapa orang-orang shalih dahulu menjadikan ayat sebagai cermin harian. Mereka tidak sekadar membaca, tetapi menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat orbit kehidupan. Apa pun yang mereka lakukan, selalu kembali merujuk kepada poros itu.
Di tengah dunia yang serba cepat dan mudah mengalihkan fokus, gagasan ini semakin relevan:
Pertahankan poros, lurus_kencangkan jari-jari. Pegang Al-Qur’an sebagai pusat, maka hidup akan menemukan arahnya. Mengubah susah dan gundah menjadi Hasanah (sumringah).
Wallahu a’lamu bis_shawaab.
** Penulis adalah pembelajar pada lingkar diskusi terbatas (Limited Group) kajian al_qur’an berbasis Ilmu ‘Alat. Ia merupakan alumni IMM FISIP Unmuh Malang.


















