PEDOMANINDONESIA.CO.ID – Presiden Prabowo Subianto merombak kabinetnya yang kedua kali. Kepala Negara melantik Letjen TNI (Purn.) Djamari Chaniago sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) definitif setelah jabatan itu diisi sementara waktu oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin.
Djamari dilantik bersama menteri dan wakil menteri lainnya, yang merupakan hasil dari perombakan (reshuffle) ke-3 Kabinet Merah Putih. Jajaran menteri dan wakil menteri lainnya yang juga dilantik oleh Presiden Prabowo hari ini, yaitu Erick Thohir sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Afriansyah Noor sebagai Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Rohmat Marzuki sebagai Wakil Menteri Kehutanan, Farida Farichah sebagai Wakil Menteri Koperasi, Angga Raka Prabowo sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI.
1. Khalifah Umar bin Khattab r.a. (634–644 M)
Umar sangat tegas dalam mengangkat dan memberhentikan gubernur. Khalifah kedua ini mencopot Khalid bin Walid r.a. dari jabatan panglima perang. Padahal, Khalid dikenal sebagai Saifullah al-Maslul (pedang Allah yang terhunus) dan telah memimpin banyak kemenangan, seperti dalam perang Yarmuk.
Umar khawatir umat Islam terlalu mengagungkan Khalid, sehingga kemenangan dianggap karena kehebatan pribadi, bukan karena pertolongan Allah. Dengan kebijaksanaan, Umar menunjuk Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai panglima utama menggantikan Khalid.
Menariknya, Khalid menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Ia tetap berperang di bawah komando Abu Ubaidah tanpa menuntut jabatan kembali. Bahkan, Khalid berkata, “Aku berperang bukan untuk Umar, tetapi untuk Allah.” Sikap ini menunjukkan kerendahan hati Khalid dan kebijaksanaan Umar, bahwa jabatan adalah amanah yang bisa diganti demi menjaga kemurnian niat umat dalam berjuang di jalan Allah.
Umar juga mengganti beberapa gubernur di wilayah Syam dan Irak ketika ada laporan masyarakat tentang kelalaian atau potensi penyalahgunaan kekuasaan.
Kisah itu direkam oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wan-Nihāyah (jilid 7, hlm. 106–107), Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A‘lām an-Nubalā’ (jilid 1, hlm. 379–380), Ath-Thabari dalam Tārīkh al-Umam wal-Mulūk (jilid 3, hlm. 397), Imam Ibnul Jauzi dalam Ṣifat ash-Ṣafwah (jilid 1, hlm. 262).
2. Khalifah Utsman bin Affan r.a. (644–656 M)
Khalifah Utsman bin Affan r.a. pernah mencopot Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. dari jabatan gubernur Kufah. Sa’ad adalah salah satu sahabat utama, termasuk di antara sepuluh yang dijamin masuk surga, dan dikenal sebagai panglima dalam perang Qadisiyah yang membuka jalan penaklukan Persia.
Namun, di Kufah muncul laporan dari sebagian penduduk yang menuduh Sa’ad kurang memperhatikan mereka dalam urusan kepemimpinan. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti, Utsman memilih menggantinya demi meredam ketegangan di masyarakat.
Utsman kemudian menunjuk Al-Walid bin Uqbah sebagai gubernur baru Kufah. Keputusan ini menimbulkan kontroversi karena sebagian orang menganggap Sa’ad lebih berpengalaman dan lebih utama.
Namun, kebijakan Utsman dilakukan dengan pertimbangan menjaga stabilitas politik, meski akhirnya tetap memunculkan protes dari sebagian kalangan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pergantian jabatan dalam Islam sering kali bukan karena kesalahan pribadi, melainkan demi maslahat yang lebih luas.
Pelajaran yang terkandung di dalamnya adalah, reshuffle bisa jadi solusi, tapi juga menimbulkan tantangan politik jika tak disertai komunikasi yang baik dengan rakyat.
3. Dinasti Abbasiyah (750–1258 M)
Pada masa kejayaan Abbasiyah, Khalifah Harun al-Rasyid (786–809 M) sangat bergantung pada keluarga Barmakiyah (Bani Barmak), sebuah keluarga bangsawan Persia yang cerdas dan berpengaruh. Mereka menduduki jabatan penting, terutama Yahya bin Khalid al-Barmaki sebagai wazir (perdana menteri) dan anak-anaknya sebagai gubernur di berbagai wilayah.
Di bawah kepemimpinan mereka, administrasi Abbasiyah maju pesat, ilmu pengetahuan berkembang, dan perekonomian stabil. Namun, seiring waktu, pengaruh Bani Barmak menjadi sangat kuat hingga dianggap menyaingi otoritas khalifah sendiri.
Karena khawatir kekuasaannya tergerus, Harun al-Rasyid memutuskan melakukan langkah tegas dengan mencopot seluruh Bani Barmak dari pemerintahan sekitar tahun 803 M. Jabatan mereka dicabut, harta mereka disita, dan sebagian anggota keluarga dipenjarakan.
Keputusan ini mengguncang pemerintahan Abbasiyah karena keluarga Barmak selama puluhan tahun menjadi otak birokrasi kerajaan.
Meski menyisakan gejolak politik, langkah Harun dinilai sebagai upaya menegaskan kembali supremasi khalifah di atas seluruh pejabat dan mencegah munculnya kekuatan tandingan di dalam istana.
Pelajaran: reshuffle juga dipakai untuk menjaga keseimbangan kekuasaan.
4. Dinasti Umayyah di Andalusia
Di masa kejayaan Abdurrahman III (912–961 M), dia melakukan pergantian pejabat di istana Cordoba untuk memperkuat stabilitas dan memperluas kekuasaan. Para pejabat yang tidak cakap segera diganti agar pemerintahan tetap efisien.
Pelajaran: evaluasi kinerja pejabat menjadi kunci kejayaan Andalusia.
5. Salahuddin Al-Ayyubi (1137–1193 M)
Ketika Salahuddin Al-Ayyubi berhasil menegakkan kekuasaannya di Mesir setelah runtuhnya Dinasti Fatimiyah, ia melakukan langkah berani dengan merombak jajaran pejabat dan birokrasi. Sebagian besar pejabat lama adalah pendukung kuat ideologi Syiah Fatimiyah yang sudah mengakar selama berabad-abad.
Salahuddin memahami bahwa untuk menegakkan kembali aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah serta membangun persatuan umat, ia harus membersihkan struktur pemerintahan dari orang-orang yang masih loyal kepada penguasa lama.
Perombakan “kabinet” yang dilakukan Salahuddin bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan strategi politik dan dakwah. Dengan mengisi pemerintahan dengan orang-orang beriman dan berkompeten, ia bisa menyatukan kekuatan umat Islam di Mesir dan Syam, lalu mengarahkannya menghadapi ancaman besar dari tentara Salib.
Kebijakan ini menjadi fondasi kokoh bagi perjuangannya, yang kemudian mencapai puncak dengan kemenangan monumental dalam merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187 M.
Berikut beberapa tokoh penting yang diangkat Salahuddin Al-Ayyubi setelah ia merombak pemerintahan pasca runtuhnya Dinasti Fatimiyah di Mesir:
Al-Qadhi al-Fadil (Abd ar-Rahim al-Baysani)
Diangkat sebagai wazir (perdana menteri) sekaligus penasehat utama. Ia ulama dan birokrat cerdas yang menulis surat-surat diplomatik dan menjadi tangan kanan Salahuddin dalam kebijakan politik serta administrasi.
Bahauddin Qaraqush
Dipercaya memimpin pembangunan benteng, istana, dan infrastruktur pertahanan. Ia dikenal tegas dalam menata urusan sipil dan militer.
Izzuddin Usamah bin Munqidz
Seorang penyair, diplomat, dan panglima.
Berperan dalam menghubungkan Mesir dengan wilayah Syam serta menggalang persatuan umat.
Tokoh-tokoh ulama Sunni
Salahuddin mengangkat banyak qadhi (hakim) dan khatib Sunni di masjid-masjid Mesir.
Tujuannya untuk menghapus pengaruh Syiah Fatimiyah dan mengokohkan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Kerabat dan panglima loyalis Ayyubiyah
Seperti saudaranya, Turansyah, dan keponakannya, Al-Malik al-Afdhal serta Al-Malik al-Zahir, yang kemudian ikut memimpin wilayah Syam setelah Yerusalem direbut.
Perombakan ini menunjukkan bahwa Salahuddin tidak hanya ahli strategi militer, tetapi juga piawai dalam manajemen pemerintahan: memilih orang yang tepat, amanah, dan satu visi dengan perjuangan Islam.
Dalam sejarah Islam, pergantian pejabat (reshuffle) dilakukan untuk:
Menjaga amanah dan keadilan.
Mencegah penyalahgunaan jabatan.
Menjaga stabilitas politik dan persatuan umat.
Menjaga agar rakyat tetap mendapat pemimpin yang cakap dan adil. ADM (Sumber : Republika.com).



















