Pedomanindonesia.co.id – Awalnya, Lukman (35) asal Desa Sememu, Kecamatan Pasirian, penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Kini dia menjadi juragan kerupuk sukses dengan produknya dikenal hingga Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto.
Perjalanan Lukman dimulai dari usaha kerupuk keluarga yang nyaris mati suri. Dengan modal Rp 5 juta dari Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE), ia membeli alat produksi dan kemasan menarik. Perlahan, kerupuk “Mahkota” atau dikenal sebagai kerupuk latah itu mulai dikenal luas, hingga menjadi andalan pasar lokal dan regional.
Yang menarik, Lukman tidak berhenti di sukses pribadinya. Sekitar 18 warga, sebagian eks penerima PKH, kini bekerja bersama Lukman. Dia aktif memberi motivasi agar mereka juga berani mandiri.
“Dulu kami semua berjuang bersama. Sekarang saya ingin memberi contoh, agar mereka juga bisa mandiri. Kemandirian itu dimulai dari keberanian mencoba,” kata Lukman.
Pendamping PKH Desa Sememu, Putri Hindra, menyatakan, Lukman merupakan contoh nyata tujuan program PKH dan PPSE. “Selain bantuan modal, pendampingan dan pelatihan wirausaha membuat mereka mampu melihat potensi diri dan memilih usaha yang sesuai,” ujarnya.
Kisah Lukman menjadi inspirasi bahwa dengan kemauan, dukungan, dan pendampingan yang tepat, bantuan sosial dapat menumbuhkan semangat wirausaha, memberdayakan masyarakat, dan ikut membangun ekonomi lokal.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, dalam kunjungan kegiatan P2K2 di Desa Sememu, Rabu (24/9/2025), menegaskan, pemerintah ingin bantuan sosial menjadi jembatan menuju kemandirian ekonomi, bukan sekadar konsumsi.
“Kami ingin warga tidak hanya menerima bantuan, tapi bisa berdiri sendiri, menjadi pelaku usaha produktif, dan membuka peluang kerja bagi orang lain,” ujar Bunda Indah, panggilan karibnya. ADM – KOM



















