LUMAJANG,Pedomanindonesia – Udara malam masih lembab setelah hujan reda. Tanah di halaman Pondok Pesantren Annur Azzahra Tempeh Lumajang terasa dingin, tapi semangat para santri justru berkobar hangat.
Ratusan santri kecil berseragam putih hitam berbaris rapi, membawa poster bertuliskan “Next King and Queen Islam Generation”, “Sinar Fajar Santri Pelita Zaman”, dan berbagai kalimat penyemangat lainnya. Di tangan mereka, lentera dan bendera kecil berkibar, beberapa sobek di ujungnya, tapi tetap digenggam erat.
Pawai itu digelar untuk memperingati Hari Santri Nasional 2025, Selasa (21/10/2025) malam. Sepanjang jalan provinsi Tempeh, mereka berjalan dengan tertib sambil melantunkan shalawat yang menggema malalui pengeras suara di udara lembab sisa hujan.
Pemilik Pondok Pesantren Annur Azzahra menyampaikan pesan penuh semangat kepada seluruh santri.
“Jangan malu atau minder jadi santri. Jadilah garda terdepan untuk agama, negara, dan bangsa. Hidup santri! Hidup santri!” ujarnya dengan tegas.
Sementara itu, Bhabinkamtibmas Desa Tempeh Tengah, Yahya, menegaskan pentingnya pengamanan agar acara berlangsung tertib.
“Kegiatan Hari Santri ini kan melewati jalan raya provinsi, jadi perlu bagi kami dari Polsek Tempeh melakukan pengawalan agar berjalan lancar dan tidak ada apa-apa,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh warga setempat yang enggan disebut namanya, yang juga turut terlibat dalam pengamanan.
“Acara seperti ini perlu dikawal agar tertib, apalagi melibatkan banyak anak-anak santri,” katanya.
Dari sudut lain, seorang warga Desa Gesang, Sulis panggilan akrabnya berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut.
“Ke depan semoga TPQ-TPQ di sekitar pondok, bahkan di Desa Tempeh Tengah, bisa dikumpulkan dan dibina bersama untuk memperingati hari santri nasional. Supaya semangat santri makin kuat,” ujarnya penuh semangat.
Baca juga: Pemkab Lumajang Dukung Pendidikan Mahasiswa Melalui Program Beasiswa
Malam itu, cahaya lentera berpadu dengan suara shalawat, menciptakan suasana hangat di antara dinginnya udara.
Santri-santri kecil itu berjalan di jalan yang basah, membawa pesan sederhana namun dalam: bahwa cahaya santri akan terus menyala, meski malam selebat apa pun. ADM-SOF



















