• About
  • Get Jnews
  • Contcat Us
Selasa, Mei 26, 2026
Pedoman Indonesia
No Result
View All Result
  • Login
  • Sikap Redaksi
    Hutan Kota Lumajang Seperti Terbengkalai dan Jadi Tempat Mesum

    Hutan Kota Lumajang Seperti Terbengkalai dan Jadi Tempat Mesum

    DPRD Lumajang Akan Pantau Realisasi APBD Tahun 2022

    DPRD Lumajang Akan Pantau Realisasi APBD Tahun 2022

    Berikut Kesimpulan Rapat Paripurna Lanjutan

    Trending Tags

    • Commentary
    • Featured
    • Event
    • Editorial
  • Olahraga Kesehatan
  • Nasional
  • Tokoh
  • Serba Serbi
  • Seni Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan & Agama
  • Susunan Redaksi Pedoman Indonesia
  • Sikap Redaksi
    Hutan Kota Lumajang Seperti Terbengkalai dan Jadi Tempat Mesum

    Hutan Kota Lumajang Seperti Terbengkalai dan Jadi Tempat Mesum

    DPRD Lumajang Akan Pantau Realisasi APBD Tahun 2022

    DPRD Lumajang Akan Pantau Realisasi APBD Tahun 2022

    Berikut Kesimpulan Rapat Paripurna Lanjutan

    Trending Tags

    • Commentary
    • Featured
    • Event
    • Editorial
  • Olahraga Kesehatan
  • Nasional
  • Tokoh
  • Serba Serbi
  • Seni Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan & Agama
  • Susunan Redaksi Pedoman Indonesia
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
Home Nasional

Kirab Bendera Pusaka Terus Jaga Semangat Kebangsaan Dari Era Orde Baru hingga Kini

pedoman_id by pedoman_id
Agustus 17, 2025
in Nasional
0
Kirab Bendera Pusaka Terus Jaga Semangat Kebangsaan Dari Era Orde Baru hingga Kini

Dua Purnapaskibraka Duta Pancasila yang juga Paskibraka pembawa Bendera Merah Putih 2024 membawa teks proklamasi dan Sang Saka Merah Putih untuk dikirab dari Monumen Nasional (Monas) menuju Istana Negara, Minggu (17/8/2025).

0
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

“Kirab Bendera Pusaka pertama kali digelar pada 1969 setelah Monas diresmikan Presiden Soeharto. Sejak itu, setiap pagi 17 Agustus, duplikat bendera pusaka diarak secara resmi menuju Istana untuk dikibarkan pada upacara Detik-Detik Proklamasi.“

PEDOMANINDONESIA.CO.ID – Prosesi Kirab Bendera Pusaka dalam rangka HUT ke-80 Republik Indonesia kembali digelar, Minggu (17/8/2025).

READ ALSO

Ingin Kaya Itu Naluri, Mengapa Presiden Prabowo Berbicara Sebaliknya?

Sutradara Film Pesta Babi Sayangkan Nobar Dibubarkan

Tradisi ini dimulai dari Monumen Nasional (Monas) menuju Istana Merdeka, sebagai bentuk penghormatan terhadap Merah Putih yang menjadi saksi lahirnya bangsa.

Kirab Bendera Pusaka pertama kali digelar pada 1969 setelah Monas diresmikan Presiden Soeharto. Sejak itu, setiap pagi 17 Agustus, duplikat bendera pusaka diarak secara resmi menuju Istana untuk dikibarkan pada upacara Detik-Detik Proklamasi.

Prosesi ini telah berkembang dari yang awalnya sederhana menjadi lebih atraktif. Kini kirab melibatkan pasukan pengawal, marching band, hingga simbol budaya, serta disiarkan secara langsung di berbagai media. Sore harinya, bendera dikembalikan ke Monas usai upacara penurunan di Istana Merdeka.

Kirab ini menjadi simbol perjalanan sejarah bangsa sekaligus pengingat bahwa Merah Putih bukan sekadar kain, melainkan warisan berharga yang menyatukan rakyat dalam semangat persatuan dan penghormatan kepada para pahlawan. Dikutip dari mesin pebcari chat GPT terdapat tiga era prosesi kirab bendera pusaka diantaranya:

Era 1970–1990-an: Kesederhanaan yang Penuh Wibawa

Pada periode ini, prosesi kirab Bendera Pusaka masih dijalankan dalam kerangka upacara formal kenegaraan penuh protokol.

  • Pasukan pengawal terbatas: Kirab hanya diiringi oleh pengawalan khusus dari aparat militer, tanpa tambahan atraksi budaya atau hiburan.
  • Kendaraan khusus: Bendera Pusaka dibawa dengan kendaraan yang disiapkan khusus, tanpa kemeriahan arak-arakan yang melibatkan masyarakat luas.
  • Akses publik terbatas: Masyarakat umum belum diberi ruang besar untuk menyaksikan prosesi ini. Acaranya lebih bersifat eksklusif, hanya dapat disaksikan oleh tamu undangan resmi, pejabat, dan aparat yang bertugas.
  • Atmosfer: Suasana prosesi terasa sangat khidmat, formal, dan penuh wibawa, mencerminkan pendekatan pemerintah kala itu yang menekankan stabilitas dan penghormatan simbol negara secara kaku.

Era Reformasi (1998–2000-an): Awal Keterbukaan dan Inklusivitas

Memasuki era Reformasi, wajah prosesi kirab mengalami perubahan signifikan, sejalan dengan semangat demokratisasi dan keterbukaan publik.

  • Ruang untuk rakyat: Masyarakat mulai diperbolehkan menyaksikan langsung prosesi kirab di sepanjang jalur dari Monas menuju Istana Merdeka. Hal ini menciptakan rasa kebersamaan dan kedekatan antara simbol negara dengan rakyatnya.
  • Hadirnya iring-iringan tambahan: Prosesi tidak lagi sekadar pengawalan formal, melainkan diperindah dengan kehadiran pasukan berkuda, marching band, dan kelompok seni budaya. Ini menjadi momen yang lebih meriah, sekaligus mempertegas identitas kebangsaan yang plural.
  • Atmosfer lebih hangat: Nuansa kirab berubah dari sekadar protokol formal menjadi perayaan rakyat yang tetap khidmat namun penuh semangat kebersamaan. Publik bisa melihat langsung, memberi hormat, bahkan ikut merasakan aura sakral prosesi.

Era Kontemporer (2010-an hingga Sekarang): Sakral, Meriah, dan Modern

Dalam era modern, kirab Bendera Pusaka semakin dikemas dengan pendekatan atraktif dan komunikatif, agar relevan dengan generasi muda dan mudah diakses seluruh rakyat.

Atmosfer masa kini: Prosesi kini menjadi kombinasi antara ritual sakral dan perayaan budaya, menampilkan wajah modern Indonesia yang berakar pada sejarah namun terbuka terhadap kemajuan.

Pertunjukan budaya: Prosesi kini dilengkapi dengan penampilan seni, parade kostum adat, hingga orkestra musik yang membalut semangat kebangsaan dalam nuansa lebih hidup.

Liputan media nasional: Setiap tahunnya, prosesi disiarkan secara langsung oleh televisi nasional dan media digital, menjadikannya tontonan massal yang mampu menyatukan seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Prosesi sore hari: Tradisi baru ditambahkan, yakni pengembalian Bendera Pusaka dari Istana Merdeka kembali ke Monas setelah upacara penurunan bendera. Hal ini menegaskan siklus penghormatan: bendera dijemput pagi untuk dikibarkan, lalu dikembalikan sore untuk disemayamkan kembali. ADM (Sumber : Indonesia.go.id).

Tags: bendera pusakakirab bendera

Related Posts

APBD Bukan Meja Prasmanan Kritik Konstruktif Buat Bagian Umum Pemkab Lumajang
Essai & Opini

Ingin Kaya Itu Naluri, Mengapa Presiden Prabowo Berbicara Sebaliknya?

Mei 22, 2026
Sutradara Film Pesta Babi Sayangkan Nobar Dibubarkan
Nasional

Sutradara Film Pesta Babi Sayangkan Nobar Dibubarkan

Mei 12, 2026
PPP Lumajang Antara Tantangan Nasional dan Kestabilan Daerah
Essai & Opini

Darurat Keamanan di Lumajang, Aksi Begal “Wabah” Yang Tak Pernah Usai

Mei 7, 2026
Raih Empat Emas, Klub Panahan Dzunnurain Lumajang Peringkat Empat di Kejuaraan Panahan Jakarta Barat
Daerah

Raih Empat Emas, Klub Panahan Dzunnurain Lumajang Peringkat Empat di Kejuaraan Panahan Jakarta Barat

April 28, 2026
PPP Lumajang Antara Tantangan Nasional dan Kestabilan Daerah
Daerah

Kartini Mau Dimadu : Kuatnya Budaya Zaman Itu Atau Strateginya Untuk Terus Berkarya?

April 22, 2026
PPP Lumajang Antara Tantangan Nasional dan Kestabilan Daerah
Essai & Opini

Kartini Melawan Ketimpangan Ketidak Adilan dengan Pena Bukan dengan Senjata

April 22, 2026
Next Post
Beredar Beras tak Layak Konsumsi Beredar di Toko dan Swalayan di Karimun

Beredar Beras tak Layak Konsumsi Beredar di Toko dan Swalayan di Karimun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Nugraha Yudha Mudiarto Dicopot Sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lumajang, Diduga Selingkuh

Nugraha Yudha Mudiarto Dicopot Sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lumajang, Diduga Selingkuh

Oktober 16, 2025
Ribuan Hama Ulat Bulu Serang Perumahan Biting Kutorenon Sukodono Lumajang

Ribuan Hama Ulat Bulu Serang Perumahan Biting Kutorenon Sukodono Lumajang

Mei 7, 2025
Sempat Terjadi Kericuhan Saat Eksekusi Rumah di Lumajang, Penghuni Tolak Pengosongan

Sempat Terjadi Kericuhan Saat Eksekusi Rumah di Lumajang, Penghuni Tolak Pengosongan

Juni 11, 2025
Biar Aman Belilah Emas Antam di Tempat Resmi, Berikut Tempat Resminya

Biar Aman Belilah Emas Antam di Tempat Resmi, Berikut Tempat Resminya

Maret 26, 2025
Lokasi Pusat Kota Lumajang, Komplotan Perampok Bersenjata Sikat Toko Emas Di Siang Bolong

Lokasi Pusat Kota Lumajang, Komplotan Perampok Bersenjata Sikat Toko Emas Di Siang Bolong

Juni 21, 2025

EDITOR'S PICK

Siswa SMPN 7 Mojokerto yang Hilang di Pantai Drini Ditemukan Meninggal Rabu Pagi

Siswa SMPN 7 Mojokerto yang Hilang di Pantai Drini Ditemukan Meninggal Rabu Pagi

Januari 29, 2025
Buah Markisa Berikut Beberapa Manfaat Tak Terduga

Buah Markisa Berikut Beberapa Manfaat Tak Terduga

September 11, 2025
SD Negeri Pagowan 01 Pasrujambe Segera Akan Diperbaiki

SD Negeri Pagowan 01 Pasrujambe Segera Akan Diperbaiki

September 9, 2025
Cipkon di Momen Lebaran, Polsek Sukodono Patroli Dialogis ke Warga Desa Karangsari

Cipkon di Momen Lebaran, Polsek Sukodono Patroli Dialogis ke Warga Desa Karangsari

April 16, 2024
Pedoman Indonesia

© 2023
PT. Sogindo Media Jaya
Perumahan Tukum Indah Blok S 21, RT 003 RW 016, Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, Propinsi Jawa Timur.

CP/WA : 081217863602
Email : sogiindomediajaya@gmail.com

Navigate Site

  • Sikap Redaksi
  • Olahraga Kesehatan
  • Nasional
  • Tokoh
  • Serba Serbi
  • Seni Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan & Agama
  • Susunan Redaksi Pedoman Indonesia

Follow Us

No Result
View All Result
  • Sikap Redaksi
  • Olahraga Kesehatan
  • Nasional
  • Tokoh
  • Serba Serbi
  • Seni Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan & Agama
  • Susunan Redaksi Pedoman Indonesia

© 2023
PT. Sogindo Media Jaya
Perumahan Tukum Indah Blok S 21, RT 003 RW 016, Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, Propinsi Jawa Timur.

CP/WA : 081217863602
Email : sogiindomediajaya@gmail.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In