• About
  • Get Jnews
  • Contcat Us
Sabtu, April 18, 2026
Pedoman Indonesia
No Result
View All Result
  • Login
  • Sikap Redaksi
    Hutan Kota Lumajang Seperti Terbengkalai dan Jadi Tempat Mesum

    Hutan Kota Lumajang Seperti Terbengkalai dan Jadi Tempat Mesum

    DPRD Lumajang Akan Pantau Realisasi APBD Tahun 2022

    DPRD Lumajang Akan Pantau Realisasi APBD Tahun 2022

    Berikut Kesimpulan Rapat Paripurna Lanjutan

    Trending Tags

    • Commentary
    • Featured
    • Event
    • Editorial
  • Olahraga Kesehatan
  • Nasional
  • Tokoh
  • Serba Serbi
  • Seni Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan & Agama
  • Susunan Redaksi Pedoman Indonesia
  • Sikap Redaksi
    Hutan Kota Lumajang Seperti Terbengkalai dan Jadi Tempat Mesum

    Hutan Kota Lumajang Seperti Terbengkalai dan Jadi Tempat Mesum

    DPRD Lumajang Akan Pantau Realisasi APBD Tahun 2022

    DPRD Lumajang Akan Pantau Realisasi APBD Tahun 2022

    Berikut Kesimpulan Rapat Paripurna Lanjutan

    Trending Tags

    • Commentary
    • Featured
    • Event
    • Editorial
  • Olahraga Kesehatan
  • Nasional
  • Tokoh
  • Serba Serbi
  • Seni Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan & Agama
  • Susunan Redaksi Pedoman Indonesia
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
Home Essai & Opini

DOA SRITEX

pedoman_id by pedoman_id
Maret 5, 2025
in Essai & Opini
0
Sritex
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

Minggu 02-03-2025,03:00 WIB

READ ALSO

Ambisi Nutrisi, Mandat Konstitusi, dan Jihad Intelektual ‎

Makna Pahala: Mengembalikan Al-Qur’an sebagai Pandangan Hidup

YANG harus dibacakan doa kubur ternyata yang di Solo. Sritex resmi meninggal dunia. Kemarin. Persis bersamaan dengan hari pertama bulan Ramadan: 1 Maret 2025. Bisa langsung masuk surga.

Hari itu kurator menetapkan Sritex harus dikubur. Sejak dinyatakan pailit oleh pengadilan Semarang, empat bulan lalu, Sritex memang sudah disuntik mati. Sudah dimatikan batang otaknya.

Saat meninggal kemarin umurnya 59 tahun. Persis 10 tahun setelah meninggalnya sang pendiri: Haji Lukminto (Ie Djie Shien).

Setidaknya Sritex sudah pernah membuat sejarah dalam hidupnya: menjadi pabrik tekstil terbesar di Indonesia. Pernah menjadi kebanggaan Indonesia: bisa ekspor pakaian tentara ke banyak negara.

Tidak hanya pakaian. Termasuk segala keperluan tentara yang terkait dengan produk tekstil: tenda, ransel, tempat tidur lipat…

Lukminto lahir di Kertosono, Nganjuk, 1 Juni 1946. Ia meninggal di usia 67 tahun. Bintangnya sangat baik. Ia satu kampung dengan tokoh wartawan yang kemudian menjadi menteri lima periode: Harmoko. Yang juga jadi Ketua Umum Golkar di akhir zaman Presiden Suharto. Lalu jadi ketua DPR/MPR yang secara resmi mencabut mandat Pak Harto sebagai presiden.

Harmoko pula yang mengajak Lukminto masuk Islam. Jadi mualaf. Naik haji. Usahanya maju pesat. Harmoko memiliki saham di Sritex sekitar 20 persen. Belakangan, setelah reformasi, saham itu sudah dijual semua.

Sepeninggal Lukminto Sritex diteruskan oleh dua anaknya: Iwan Kurniawan dan Iwan Setiawan. Nama depannya sama. Agar tetap membawa nama leluhur: marga Ie.

Iwan yang satu jadi komisaris utama, Iwan satunya jadi direktur utama.

Sebenarnya Lukminto punya lima anak. Tapi yang tiga perempuan: Vonny, Lanny, dan Margareth. Anda sudah tahu: di keluarga Tionghoa anak lelakilah yang mewarisi harta orang tua.

Di tangan anaknya ini Sritex terus berkembang. Luar biasa. Ke hulu. Ke hilir. Ke mana saja. Bahkan ke luar pagar. Investasi terbarunya adalah: pabrik rayon –bahan baku benang tiruan. Rayon terbuat dari serat kayu yang sudah dijadikan pulp. Bisa sebagai pengganti kapas. Investasi pabrik rayon ini sampai Rp 7 triliun. Termasuk untuk membangun pembangkit listrik. Pembangkitnya dua macam sekaligus: batu bara dan diesel.

Iwan tidak mau hanya mengandalkan listrik PLN. Rupanya Iwan tidak tahu kalau sejak kapan itu listrik PLN sudah sangat andal. Dan murah. Bahkan ada pabrik tekstil yang menyesal membangun pembangkit sendiri: telanjur tidak percaya pada PLN. Sritex mengulangi penyesalan pengusaha tekstil yang menyesal itu.

Pabrik rayon Sritex itu dibangun di Wonogiri. Bayangkan bagaimana penyediaan batubaranya. Tiap hari harus angkut batubara pakai ratusan truk dari pelabuhan Semarang ke Wonogiri. Betapa mahalnya.

Dua tahun lalu pabrik rayon itu berhenti beroperasi. Tidak sampai berumur dua tahun sudah mati. Mati bayi. Investasi Rp 7 triliun sia-sia.

Seandainya pun hanya pakai listrik PLN –dengan minta layanan khusus, dilayani tiga gardu induk– belum tentu masih kompetitif. Penyebabnya: pabrik rayon lain punya bahan baku sendiri. Punya pabrik pulp sendiri. Bahkan punya hutan sendiri –yang bisa ditebang untuk dibuat pulp.

Sritex tidak punya pabrik pulp. Apalagi hutan tanaman industri. Pulpnya dibeli dari perusahaan India di Purwakarta: Indo Bharat. Sritex memang sudah bergerak ke hulu tapi masih ada hulu-hulu lanjutan yang belum ia masuki.

Sebenarnya pengadilan pernah memberi perpanjangan umur Sritex. Tapi tidak dimanfaatkan dengan baik.

Kala itu para kreditor mempailitkan Sritex. Utangnya senilai sekitar Rp 16 triliun macet. Baik kepada berbagai bank maupun ke para pemasok bahan baku, termasuk Indo Bharat.

Pengadilan memutuskan: homologasi. Perdamaian. Diaturlah perpanjangan pembayaran. Agar beban Sritex lebih ringan. Sritex bisa menyicil utang itu. Ada jadwal penyicilan yang disepakati.

Pembayaran cicilan itu pun berlangsung lancar. Sudah empat bulan. Tiba-tiba Sritex mendapat info: tagihan salah satu pemasoknya sudah dibayar lunas oleh perusahaan asuransi. Berarti Sritex tidak perlu menyicil lagi ke salah satu kreditornya itu: PT Indo Bharat.

Indo Bharat keberatan. Bahwa ia dibayar asuransi itu urusannya sendiri. Tidak ada hubungan dengan Sritex. Ia memang mengasuransikan tagihannya ke Sritex. Ketika Sritex tidak bisa membayar perusahaan asuransilah yang membayar.

Sritex menggugat Indo Bharat. Indo Bharat marah. Ia ajukan gugatan pailit ke pengadilan. Menang, dalam perjanjian kesepakatan homologasi tertulis: begitu cicilan tidak dibayar Sritex langsung pailit. Pailit final.

Sayang sekali. Padahal cicilan ke Indo Bharat termasuk kecil dibanding ke yang lain. Utang ke Indo Bharat juga tergolong kecil: sekitar Rp 80 miliar –dari total utang Ro 16 triliun.

Pengadilan pun dengan mudah memutuskan: Sritex pailit. Sritex nyata-nyata gagal bayar cicilan, apa pun penyebabnya. Tapi upaya untuk berkelit dari pailit terus diupayakan. Termasuk secara politik. Jumlah buruh Sritex yang mencapai lebih 30.000 menjadi “kartu As”.

Gagal.

Maka tanggal 1 Ramadan kemarin resmi Sritex pailit. Pabrik ditutup. Hak-hak karyawan jelas: PHK. Lalu akan menerima pesangon sesuai dengan hukum perburuhan yang berlaku.

Semoga perusahaan masih punya uang di kasnya untuk pembayaran pesangon ini. Kalau tidak, harus menunggu Sritex laku dijual. Hasil penjualan perusahaan ini akan diprioritaskan untuk membayar pajak-pajak dan pesangon karyawan. Selebihnya dibagi secara proporsional kepada para kreditor.

Maka setelah ini akan ada lelang. Bisa terbuka. Bisa tertutup. Terserah kurator. Bisa dilelang parsial atau global. Terserah kurator. Bisa tanahnya dijual sendiri, pabriknya dijual sebagai besi tua, terserah kurator. Atau dijual ke pabrik tekstil lain yang ingin ekspansi. Terserah kurator.

Maka pabrik-pabrik tekstil besar kini berlomba mengincar mayat Sritex. Tidak hanya pabrik di dalam negeri. Juga pabrik tekstil dari luar negeri. Anda sudah bisa mengira: hanya perusahaan tekstil dari Tiongkok yang mampu membeli mayat begitu mahalnya.

Lantas akan ke mana duo-Iwan putra Lukminto?

Bisakah ia jadi pemilik baru Sritex? Dengan cara ikut jadi pembeli dengan harga murah? Tidak boleh. Teorinya. Tapi banyak terjadi: orang sepertinya bisa pakai nama orang lain.

Rasanya duo-Iwan tidak akan melakukan itu. Pertama, belum tentu dua bersaudara ini kompak. Kedua, mereka masih punya banyak perusahaan lain.

Iwan Kurniawan, dirut Sritex sepeninggal ayahnya, masih punya lima atau tujuh pabrik tekstil lain di luar Sritex. Iwan Setiawan tidak ikut di situ tapi juga masih punya usaha lain.

Sritex yang pailit hanya meliputi empat perusahaan. Jadi secara jumlah Iwan Kurniawan masih punya pabrik tekstil lebih banyak di luar Sritex. Di Boyolali. Di Semarang. Di Yogya. Hanya saja, secara nilai, mungkin gabungan empat perusahaan yang di Sritex lebih besar.

Maka doa kubur yang harus dibacakan hanya untuk yang empat itu. Disertai doa semoga cepat bisa lahir kembali dengan berganti bapak. Lalu buruh yang sudah terima pesangon bisa melamar kembali ke pabrik baru entah apa namanya nanti.

Begitu bertubi berita gelap belakangan ini di tengah upaya menyalakan lampu-lampu harapan baru. Coba Anda hitung mana yang lebih banyak: lampu yang mati atau lampu baru yang menyala lebih terang. (Dahlan Iskan)

Tags: Pabrik tekstilpailitpengadilan SemarangSritex

Related Posts

Ambisi Nutrisi, Mandat Konstitusi, dan Jihad Intelektual  ‎
Essai & Opini

Ambisi Nutrisi, Mandat Konstitusi, dan Jihad Intelektual ‎

Maret 14, 2026
Relawan Tanggap Bencana Perisai Sarikat Islam Lumajang Kembali Hadir
Essai & Opini

Makna Pahala: Mengembalikan Al-Qur’an sebagai Pandangan Hidup

Maret 7, 2026
MUHASABAH
Essai & Opini

MUHASABAH

Maret 7, 2026
Bisakah Anak Muda dan Mahasiswa (HMI dan PMII atau Kelompok Pemuda Lain) Mencontoh Ketua BEM UGM?
Essai & Opini

Bisakah Anak Muda dan Mahasiswa (HMI dan PMII atau Kelompok Pemuda Lain) Mencontoh Ketua BEM UGM?

Februari 28, 2026
Panca Kesadaran Ansor
Essai & Opini

Panca Kesadaran Ansor

Februari 12, 2026
Prof. Dr. Hufron, S.H., M.H., Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Essai & Opini

Hari Pers Nasional dalam Bingkai Konstitusi

Februari 10, 2026
Next Post
FORKOPIMCA-KUA Gelar Penyuluhan Kolaboratif Guna Jaga Kondusifitas Warga Merakan

FORKOPIMCA-KUA Gelar Penyuluhan Kolaboratif Guna Jaga Kondusifitas Warga Merakan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Nugraha Yudha Mudiarto Dicopot Sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lumajang, Diduga Selingkuh

Nugraha Yudha Mudiarto Dicopot Sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lumajang, Diduga Selingkuh

Oktober 16, 2025
Ribuan Hama Ulat Bulu Serang Perumahan Biting Kutorenon Sukodono Lumajang

Ribuan Hama Ulat Bulu Serang Perumahan Biting Kutorenon Sukodono Lumajang

Mei 7, 2025
Sempat Terjadi Kericuhan Saat Eksekusi Rumah di Lumajang, Penghuni Tolak Pengosongan

Sempat Terjadi Kericuhan Saat Eksekusi Rumah di Lumajang, Penghuni Tolak Pengosongan

Juni 11, 2025
Biar Aman Belilah Emas Antam di Tempat Resmi, Berikut Tempat Resminya

Biar Aman Belilah Emas Antam di Tempat Resmi, Berikut Tempat Resminya

Maret 26, 2025
Lokasi Pusat Kota Lumajang, Komplotan Perampok Bersenjata Sikat Toko Emas Di Siang Bolong

Lokasi Pusat Kota Lumajang, Komplotan Perampok Bersenjata Sikat Toko Emas Di Siang Bolong

Juni 21, 2025

EDITOR'S PICK

Gerakan Hijau Inklusif di Desa Tukum, Aksi Kolaboratif Tanam Tabebuya dan Bersih Lingkungan

Gerakan Hijau Inklusif di Desa Tukum, Aksi Kolaboratif Tanam Tabebuya dan Bersih Lingkungan

Juli 7, 2025
Risma Berpeluang Running di Pilgub Jatim dan Pilgub DKI Jakarta

Risma Berpeluang Running di Pilgub Jatim dan Pilgub DKI Jakarta

April 14, 2024
Pra Rakerda IDAROH SYUKBIYAH JATMAN Kabupaten Lumajang: Ajang Konsolidasi dan Silaturahmi Pengurus Baru

Pra Rakerda IDAROH SYUKBIYAH JATMAN Kabupaten Lumajang: Ajang Konsolidasi dan Silaturahmi Pengurus Baru

November 6, 2025
Kapolres Lumajang Bersama Forkopimda Nobar Piala Asia U-23 2024 Bersama Warga

Kapolres Lumajang Bersama Forkopimda Nobar Piala Asia U-23 2024 Bersama Warga

April 30, 2024
Pedoman Indonesia

© 2023
PT. Sogindo Media Jaya
Perumahan Tukum Indah Blok S 21, RT 003 RW 016, Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, Propinsi Jawa Timur.

CP/WA : 081217863602
Email : sogiindomediajaya@gmail.com

Navigate Site

  • Sikap Redaksi
  • Olahraga Kesehatan
  • Nasional
  • Tokoh
  • Serba Serbi
  • Seni Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan & Agama
  • Susunan Redaksi Pedoman Indonesia

Follow Us

No Result
View All Result
  • Sikap Redaksi
  • Olahraga Kesehatan
  • Nasional
  • Tokoh
  • Serba Serbi
  • Seni Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan & Agama
  • Susunan Redaksi Pedoman Indonesia

© 2023
PT. Sogindo Media Jaya
Perumahan Tukum Indah Blok S 21, RT 003 RW 016, Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, Propinsi Jawa Timur.

CP/WA : 081217863602
Email : sogiindomediajaya@gmail.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In