
JAKARTA (PI) – Bersama bayi kecilnya bernama Ismail, Siti Hajar ditinggalkan sendirian, di sebuah lembah tandus bernama Bakkah yang kelak dikenal sebagai Makkah. Tidak ada pepohonan, tidak ada sumber air, dan tidak tampak tanda-tanda kehidupan. Hanya panas yang menyengat dan keheningan.
Ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam meninggalkan istri dan anaknya yang masih bayi, Siti Hajar berlari mengejarnya. Dengan hati yang diliputi kegelisahan, ia bertanya, “Wahai Ibrahim, apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”
Ketika Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.” Siti Hajar berhenti. Ia tidak menangis, tidak memprotes, tidak pula mengeluh. Dengan keyakinan yang kokoh ia berkata, “Jika demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Hari-hari berlalu. Persediaan air habis. Ismail menangis kehausan. Siti Hajar tidak sanggup melihat putranya merintih. Ia berlari menuju Bukit Shafa, berharap melihat kafilah atau sumber air. Tapi tidak ada apa-apa.
Kemudian Siti Hajar berlari ke Bukit Marwah, masih juga tidak melihat apa-apa yang dicarinya. Ia bolak-balik antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, bukan karena putus asa, melainkan karena harapan seorang ibu yang tidak pernah padam.
Di saat ikhtiar mencapai batas terakhirnya, Allah menurunkan pertolongan-Nya. Dari hentakan kaki kecil Ismail, memancarlah air zamzam, air kehidupan, air keberkahan, air yang hingga kini tak pernah kering.
Perjuangan sunyi Siti Hajar tidak hanya menyelamatkan nyawa anaknya, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya sebuah peradaban. Lembah tandus itu berubah menjadi pusat ibadah umat manusia.
Ketika Iman Bertemu Kasih Seorang Ibu
Kisah Siti Hajar menunjukkan bahwa iman tidak selalu hadir dalam bentuk doa yang panjang, tetapi juga dalam langkah-langkah kecil penuh pengorbanan. Ia mengajarkan bahwa tawakal bukanlah diam menunggu, melainkan bergerak dengan keyakinan meski hasil belum terlihat.
Perjuangan Siti Hajar adalah perjuangan yang tidak disaksikan manusia, tetapi dicatat oleh Allah. Hingga hari ini, jutaan jamaah haji dan umrah meneladani langkahnya melalui ibadah sa’i, sebuah penghormatan ilahi kepada jerih payah seorang ibu.
Keikhlasan seorang ibu memiliki nilai ibadah yang agung. Langkah-langkah Siti Hajar diabadikan sebagai ritual suci, menegaskan bahwa pengorbanan ibu bukan peristiwa biasa di sisi Allah.
Tawakal sejati selalu disertai ikhtiar. Air zamzam tidak mucul saat Siti Hajar berdiam diri, tetapi setelah ia berjuang sekuat tenaga.
Perjuangan ibu bisa melahirkan peradaban. Dari keteguhan seorang ibu, Allah menumbuhkan kota suci dan generasi para nabi.
Allah mendengar jeritan yang tak terucap. Ketika Siti Hajar tidak lagi mampu berlari, pertolongan Allah datang dari arah yang tak disangka.
Kasih ibu adalah kekuatan spiritual. Cinta seorang ibu kepada anaknya menjadi sebab turunnya rahmat Allah bagi banyak manusia.
Doa Nabi Ibrahim Untuk Istri dan Anaknya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan sholat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim Ayat 37)
Doa Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar dikabulkan Allah. Waktu itu juga, terpancarlah air dari tanah bekas pukulan kaki anaknya Ismail yang sedang menangis. Di saat itu pula, timbullah pada diri Hajar rasa syukur kepada Allah atas rahmat-Nya yang tiada terhingga, dan timbullah dalam hatinya harapan akan kelangsungan hidupnya dan putranya lalu diminumkannya air itu kepada putranya Ismail.
Karena khawatir air itu habis dan lenyap kembali ke dalam pasir, maka ia mengumpulkan air itu dengan tangannya, seraya berkata, “Zam! Zam! (Berkumpullah! Berkumpullah!)” Kemudian terkumpullah air itu, tidak kering-kering sampai sekarang dan bernama Telaga Zamzam.
Dengan adanya Telaga Zamzam di tempat itu, banyaklah orang yang lewat meminta air ke sana. Tatkala Bani Jurhum melihat adanya sumber air di tempat itu, maka mereka minta izin kepada Hajar tinggal bersama di sana, dan Hajar pun mengabulkan permintaan itu. Sejak itu, mulailah kehidupan di daerah yang tandus itu, semakin hari semakin banyak pendatang yang menetap. Akhirnya timbullah negeri dan kebudayaan, sehingga daerah tersebut menjadi tempat jalan lintas perdagangan antara barat dan timur. (Tafsir Kementerian Agama). ADM (Sumber : Republika.co.id)



















