
Oleh : *Suga Ahmadi
Pemuda Ansor berdiri di atas keyakinan bahwa keberagamaan tidak dicukupkan sebatas simbol dan slogan. Tetapi harus diwujudkan dalam cara hidup yang menuntun sikap, menata relasi, dan menghadirkan keteduhan di tengah perbedaan.
Karena itu, Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) menjadi pijakan awal sebagai manhaj berpikir dan bersikap. Moderat dalam pandangan, berimbang dalam keputusan, santun dalam perbedaan, dan adil dalam menilai. Menampilkan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Beragama yang merangkul perbedaan, bukan yang memukul.
Pemahaman demikian kemudian berpadu dengan realitas kebangsaan. Pemuda Ansor memahami bahwa kehidupan beragama kita berlangsung di dalam rumah besar bernama NKRI. Negara dipahami sebagai kesepakatan bersama yang harus dirawat semua elemen di dalamnya.
Agama dan Nasionalisme tidak untuk dipertentangkan, justru saling menguatkan. Mencintai tanah air sudah menjadi tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan, ketertiban, dan masa depan bersama.
Dari kesadaran beragama dan kebangsaan itu lahirlah kepekaan sosial. Pemuda Ansor tidak memposisikan diri sebagai penonton atas problem masyarakat, tetapi sebagai bagian dari denyutnya.
Kerja-kerja sosial menjadi ruang aktualisasi nilai dengan hadir saat bencana, bergerak di tengah kesulitan warga, dan mengambil peran ketika solidaritas dibutuhkan. Keberagamaan diuji bukan di panggung wacana, melainkan dalam keberpihakan nyata pada kemanusiaan.
Agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai opini saja, Pemuda Ansor menempatkan organisasi sebagai instrumen gerak. Di dalamnya ada disiplin, musyawarah, pembagian peran, dan ketaatan pada aturan bersama.
Organisasi lebih dari urusan struktur, melainkan etika berjamaah. Untuk mendahulukan kepentingan kolektif, menata perbedaan, dan menjaga marwah proses. Sehingga gerakan yang sudah ada bisa berkelanjutan dan tidak mudah goyah oleh dinamika sesaat. Mengurangi ketergantungannya pada figur.
Dalam seluruh prosesnya, Pemuda Ansor mengedepankan sikap Rasional. Berpikir rasional bukan berarti kering dari nilai, tetapi akal yang bekerja di bawah tuntunan ilmu dan adab. Setiap keputusan diupayakan lahir dari pertimbangan yang jernih, data yang memadai, dan kemaslahatan yang luas. Menghindari sikap tergesa-gesa, emosi dikelola, dan perbedaan yang muncul disikapi dengan kepala dingin. Pergerakan terjaga tetap dewasa dan bertanggung jawab.
Panca Kesadaran Ansor:
- Aswaja
- NKRI
- Sosial
- Organisasi
- Rasional
Dengan demikian, Gerakan Pemuda Ansor adalah ikhtiar menghadirkan karakteristik santri di ruang publik dengan wajah yang utuh. Beriman tanpa ekstrem, berbangsa tanpa ragu, peka terhadap sosial, tertib dalam organisasi, dan jernih dalam berpikir. Sebuah jalan tengah yang tegas dalam prinsip, yang sekaligus lentur dalam menghadapi kenyataan. Demi agama yang menuntun, bangsa yang rukun, dan masa depan yang lebih bermartabat.
Lumajang, 23 Sya’ban 1447
*) Penulis adalah Mantan Aktivis Mahasiswa



















