
PEDOMANINDONESIA.CO.ID – Hari Kamis (14/8/2025) lalu menjadi hari penuh makna ketika Muhammad Nur Hasan, ayah dari Muhammad Febrian Saputra, anak penyandang disabilitas asal Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Lumajang Jawa Timur, menerima kursi roda gratis dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Lumajang. Air mata haru, pun tak terbendung dari wajahnya.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Kursi roda ini sangat membantu anak saya untuk beraktivitas sehari-hari. Selama ini kami hanya bisa menggendong atau mengandalkan bantuan orang lain. Dengan kursi roda, insyaAllah Febrian bisa lebih mandiri,” ungkap Nur Hasan dengan suara bergetar saat dikonfirmasi, kemarin.
Bagi keluarga sederhana ini, kursi roda bukan hanya alat bantu, melainkan jembatan menuju kehidupan yang lebih layak. Selama ini, keterbatasan mobilitas membuat Febrian sering hanya berada di rumah. Kini, orang tuanya berharap ia bisa lebih leluasa berinteraksi, belajar, dan tumbuh dengan percaya diri seperti anak-anak lain.
Proses penyaluran bantuan ini tidak lepas dari pendampingan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Desa Tukum, Saiful, yang mengajukan kebutuhan keluarga tersebut kepada Dinsos P3A.
“Alhamdulillah, bantuan kursi roda ini sangat bermanfaat. Semoga Febrian bisa lebih mudah bergerak dan keluarga juga lebih ringan dalam mendampingi,” ujarnya.
Tak hanya PSM, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Tekung, Savina Indri Furianti, juga menegaskan pentingnya keberpihakan pada kelompok rentan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap warga, termasuk penyandang disabilitas, memiliki akses terhadap fasilitas yang menunjang kehidupannya. Bantuan kursi roda ini bukan sekadar alat, tetapi bentuk nyata kepedulian sosial dan hadirnya negara untuk warganya,” jelas Savina.
Bantuan kursi roda tersebut mencerminkan bahwa negara hadir untuk semua, termasuk kelompok rentan yang seringkali terpinggirkan. Pemerintah melalui Dinsos P3A Lumajang menegaskan, perlindungan sosial adalah hak setiap warga negara. Tidak boleh ada yang tertinggal dalam pembangunan, karena semangat kemerdekaan sejati berarti memberikan kesempatan setara bagi seluruh anak bangsa.
Bagi Nur Hasan, perhatian ini menyalakan kembali optimisme. Ia merasa keluarganya tidak berjalan sendiri.
“Terima kasih kepada pemerintah, kepada semua yang sudah membantu. Saya merasa lebih kuat karena ada yang peduli. Ini menambah semangat saya dan keluarga untuk terus mendampingi Febrian,” ungkapnya dengan penuh syukur.
Lebih dari sekadar penyerahan bantuan, peristiwa ini menghadirkan pesan kebangsaan, bahwa persatuan dan kepedulian adalah kunci membangun Indonesia yang inklusif. Ketika lansia, anak, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya tidak dibiarkan sendiri, itulah wujud nasionalisme yang sesungguhnya gotong royong yang mempersatukan. ADM



















