PEDOMANINDONESIA.CO.ID, LUMAJANG – Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang, Kamis, 24 Juli 2025, menggelar Bimtek Penjamah makanan, di sentra makanan/ pangan jajanan kantin sekolah oleh Tim Kerja Penyehatan Lingkungan Bidang P2P Dinkes P2KB Lumajang, Jawa Timur.
Arie Risdiyanti, S.KM, Ketua Timja Kesling, memaparkan, pengelolaan kantin ini pertama memiliki profil usaha di sekolah maupun di sentra jajanan. “Yang kedua kita melakukan inspeksi kesehatan lingkungan (IKL). Jadi di sana secara sarana prasarana, pengelolanya maupun dari makanan atau minuman yang disajikan ini aman,”ujarnya.
Yang ketiga berkaitan dengan uji sampling kualitas pangan ini tidak terkontaminasi ekoli. Jadi ada mikrobiologi dan ada kimia. Kimia ini bahan tambahan makanan yang berbahaya. Ini tidak dibuat untuk olahan pangan siap saji. “Jadi stiker pembinaan ini komitmen pada kualitas keamanan pangan di Kabupaten Lumajang,” paparnya.
Apa yang sebenarnya menjadi persoalan di kantin sekolah? Yang menjadi persoalan utama adalah kondisi kasus keracunan pangan yang juga masih ada di Kabupaten Lumajang, walaupun potensinya lebih kecil daripada kota besar. Jadi pihaknya ingin meminimalkan adanya kejadian keracunan pangan.
Persoalan yang kedua berkaitan dengan ijin sanitasi. Jadi, pengelolanya tidak menggunakan APD saat memberikan pelayanan. “Dan ternyata sekarang ada ada korelasi antara akreditasi sekolah dengan adanya kantin sehat. Harapan kami, kami bisa membackup potensi untuk pengembangan kantin sehat ini dan akreditasi sekolah juga menjadi lebih baik lagi,” tuturnya.
Lebih detail dia menjelaskan, dari sisi stiker pembinaan dikatakan, bahwa ada empat indikator kantin sekolah itu dikantakan sehat. Pertama, hasil inspeksi kesehatan lingkungannya lebih dari 80, termasuk ada poin dari sarana-prasarananya, ketersediaan cuci tangan, termasuk penyajiannya dan pemeriksaan kualitas pangannya, ekolinya negatif dan tidak ada bahan tambahan makanan. “Jadi ada pemeriksaan klinis maupun dari visualisasi langsung ke lapangan,” paparnya.
Bagaimana dengan makanan titipan ke kantin sekolah alias bukan kantin sekolah sendiri yang membuat makanan tersebut? Arie menjelentrehkan, berkaitan pengembangan UMKM pihak Dinkes sangat mendukung. Oleh karena itu, diharapakan setelah Bimtek ini peserta memberikan informasi kepada pimpinan bahwa potensi-potensi yang membahayakan keamanan pangan ini diminimalisir tidak langsung dihilangkan.
“Seperti potensi pada sekolah adiwiyata. Ternyata juga ada korelasi dengan pembinaan kantin sehat ini. Bahwa mengurangi plastik, makanan dan minuman yang diserahkan/ dititipkan ke sekolah dari awal sudah diinfokan kepada penjualnya atau yang masak, agar tidak memberikan tambahan makanan yang berbahaya, tidak menggunakan penyedap rasa ataupun konsumsi bahan-bahan berbahaya. Kami berharap bisa hadir juga di sekolah-sekolah untuk menginfokan ini. Tidak hanya pada pengelola sekolahnya tapi yang masak ini juga terinformasi,” selorohnya.
Peserta Bimtek terdiri dari dua komponen, yakni sentra jajanan di tempat-tempat wisata dan kantin sekolah. Sentra jajanan di tempat wisata ini juga diharapkan juga menyajikan makanan yang aman dan ijin sanitasinya tercukupi.
Peserta yang dari kantin sekolah adalah pengelola sekolah itu sendiri sekaligus Penjamah makanan yang ada di kantin. Totalnya ada 60 peserta dari kantin dan dari sentra jajanan. Dinkes berharap pasca Bimtek peserta sudah mendapatkan informasi soal tambahan makanan yang berbahaya, sarana prasarananya seperti apa, termasuk izin sanitasi personal pengelola kantin maupun sentra jajanan bisa memunculkan makanan yang aman, sehat, dan higien.
“Itu yang pertama. Yang kedua mereka memiliki sertifikat Penjamah makanan sebagai alat satu syarat untuk berproses ke Kantin Sehat,” imbuhnya. ADM



















