
JAKARTA (PI) – ,JAKARTA – Menyusul eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah,Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginstruksikan seluruh jajaran dan warga NU untuk menggalakkan kembali pembacaan Qunut Nazilah dalam setiap shalat fardhu.
Surat bernomor 51/PB.01/A.II.08.47/99/03/2026 tertanggal 11 Ramadhan 1447 H atau 1 Maret 2026 M tersebut ditujukan kepada Pengurus Wilayah NU se-Indonesia, Pengurus Cabang NU, Pengurus Cabang Istimewa NU, pengasuh pondok pesantren di lingkungan RMI NU, serta takmir masjid dan mushalla di lingkungan NU.Dalam surat itu, PBNU menyampaikan bahwa instruksi ini merupakan respons atas perkembangan situasi global yang memprihatinkan. Seluruh warga NU diminta menghidupkan kembali pelaksanaan Qunut Nazilah sebagaimana pedoman yang dilampirkan dalam surat tersebut.
“Kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk menggalakkan kembali pelaksanaan Qunut Nazilah. Doa Qunut Nazilah agar dibaca pada rakaat terakhir dalam setiap sholat fardhu, termasuk Sholat Jumat,” dikutip dari surat resmi itu pada Senin (2/3/2026). Lebih lanjut, PBNU juga meminta agar doa tersebut tidak didahului dengan doa qunut yang biasa dibaca saat Sholat Subuh. Khusus dalam Sholat Subuh, Qunut Nazilah dibaca setelah doa qunut Subuh.
Instruksi tersebut ditandatangani secara elektronik oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam KH Akhmad Said Asrori, Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf, dan Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf.
Melalui penguatan doa bersama ini, umat Islam khususnya warga NU diharapkan dapat memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT di tengah situasi konflik yang kian memanas, sekaligus meneguhkan solidaritas dan kepedulian terhadap korban peperangan.
Berikut bacaan Qunut Nazilah yang dirilis PBNU:
اللّهُمَّ الْعَنِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ. اللّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَيْهِمْ ، وَاجْعَلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ. اللّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمَاتِهِمْ. اَللَّهُمَّ شَيِّتْ شَمْلَهُمْ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ جَمْعَهُمْ اللَّهُمَّ زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Ya Allah, laknatilah orang-orang kafir yang menghalangi dari jalan-Mu, yang mendustakan rasul-rasul-Mu, dan yang memerangi para wali-Mu.
Ya Allah, perkeraslah hukuman-Mu atas mereka, dan timpakanlah kepada mereka siksa dan azab-Mu.
Ya Allah, pecah-belah persatuan mereka. Ya Allah, cerai-beraikanlah kebersamaan mereka. Ya Allah, hancurkanlah perkumpulan mereka. Ya Allah, goyahkanlah kaki-kaki mereka (jadikan mereka tidak teguh), dan turunkanlah kepada mereka siksa-Mu yang tidak Engkau tolak dari kaum yang berdosa.
Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya, dan semoga keselamatan tercurah kepada mereka.Sejarah Qunut Nazilah
Qunut nazilah merupakan salah satu amalan ibadah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Berikut ini adalah sejarah asal mula amal ibadah qunut nazilah.
Diketahui, Nabi Muhammad SAW kerap menerima ujian dalam menyebarkan dakwah Islam kepada umat manusia. Di antaranya adalah pengkhianatan yang menyebabkan musnahnya nyawa para sahabat mulia yang hafal Alquran.
Insiden itu disebut sebagai tragedi Bir Ma’una. Sebanyak 70 orang sahabat Nabi dibunuh oleh para pengkhianat. Karena hafal Alquran, mereka itu digelari sebagai Jama’ah Qurra’. Sebagian besar dari kelompok ini berasal dari kaum Anshar.
Nabi SAW sangat menyayangi mereka. Para sahabat ini senantiasa menghabiskan malam hari dengan berzikir dan membaca Alquran di Masjid Nabawi. Pada siang hari, banyak di antaranya yang menghadiri majelis Rasulullah SAW.
Bagaimana insiden nahas itu, yang akhirnya menjadi latar qunut nazilah, bermula?
Mula-mula, seorang laki-laki yang bernama Amir bin Malik datang ke Madinah. Ia berasal dari Bani Amir, sebuah kabilah di Nejed.Amir bin Malik meminta kepada Rasulullah SAW agar beliau bersedia mengirimkan Jama’ah Qurra’ itu kepada kabilahnya. Mereka diminta untuk mengajarkan Islam dan Alquran kepada kaumnya, Bani Amir.
Awalnya, Rasulullah SAW merasa ada yang tidak beres. Beliau khawatir bila nantinya akan terjadi sesuatu yang buruk atas para sahabatnya tersebut.
Namun, Amir bin Malik terus membujuk Nabi Muhammad SAW. Dia bahkan memberikan jaminan keselamatan atas diri seluruh Jama’ah Qurra’. Akhirnya, Rasulullah SAW mengizinkan.
Beliau mengirimkan seluruh 70 orang sahabatnya yang hafiz Alquran itu kepada kabilah Bani Amir. Tidak hanya itu, Rasul SAW juga menitipkan sepucuk surat. Isinya, ajakan kepada seluruh masyarakat Bani Amir agar memeluk Islam.
Maka berjalanlah mereka. Tatkala hampir sampai di perkampungan Bani Amir, para sahabat yang hafiz Alquran ini pun berkemah di sebuah tempat yang bernama Bir Ma’una.
Salah seorang sahabat yang bernama Haram pergi ke perkampungan Bani Amir. Tujuannya, menemui pimpinan kabilah ini, yaitu Amir bin Tufail, dan sekaligus menyampaikan surat Rasulullah SAW kepadanya.
Namun, Amir bin Tufail ternyata amat membenci Islam. Inilah yang tidak disampaikan oleh Amir bin Malik kepada Rasulullah SAW di Madinah.
Begitu melihat kedatangan Haram, Amir bin Tufail menampik surat dari Nabi SAW itu. Sikapnya amat kasar bahkan sebelum ia membaca pesan dakwah tersebut.
Tanpa banyak cakap, keponakan Amir bin Malik itu langsung menombak tubuh Haram sehingga sang sahabat Nabi terkapar. Menjelang ajalnya, hafiz Alquran itu masih sempat berseru: “Demi Tuhannya Ka’bah, aku telah mencapai kejayaan!”
Amir bin Tufail tidak peduli akan jaminan yang telah diberikan Amir bin Malik atas segenap Jama’ah Qurra’. Tidak peduli pula pada adat orang-orang Arab bahwa tidak boleh membunuh utusan pembawa surat.
Setelah itu, Amir bin Tufail mengajak kaumnya agar membantai seluruh sahabat Nabi yang masih berkemah di Bir Ma’una. Awalnya, para bawahannya ragu-ragu karena adanya jaminan yang telah diucapkan Amir bin Malik kepada Rasulullah SAW mengenai mereka.
Tidak peduli. Amir bin Tufail pun menggalang dukungan dari kabilah-kabilah lain di sekitar perkampungannya. Setelah pasukan koalisi itu terkumpul dalam jumlah yang besar, maka serbuan pun dijalankan.
Mereka membunuh semua sahabat Nabi yang ada di Bir Ma’una kecuali satu orang yang tersisa, yakni Ka’ab bin Zaid. Pria ini dikira telah meninggal, padahal masih bernyawa meski luka-luka.
Kabar pembantaian ini pun sampai kepada Rasulullah SAW. Beliau sangat bersedih hati dan sekaligus marah atas kebiadaban Amir bin Tufail dan para pendukung.
Sejak saat itu, dalam tiap sholat lima waktu berjamaah, Nabi SAW membacakan doa qunut nazilah kala memimpin sholat. Itu dilakukannya selama beberapa puluh hari.
Dalam doa itu, Rasulullah SAW menyebut nama-nama kabilah dari pasukan koalisi pembantai Jama’ah Qurra’, dengan harapan Allah SWT menimpakan balasan kepada mereka.Tata Cara Qunut Nazilah
Dikutip dari Pusat Data Republika yang mengutip tata cara qunut nazilah dari ulama MUI dan Wahdah Islamiyah, qunut nazilah yaitu berdoa untuk menangkal turunnya malapetaka di tiap sholat fardhu di rakaat terakhir setelah ruku’. Adapun doa qunut nazilah dibaca dengan suara rendah saat sholat sirriyah, yaitu shoilat zhuhur dan ashar.
Dan dibaca keras saat sholat jahriyah (sholat yang disunnahkan mengeraskan suara, yaitu sholat maghrib, isya, dan subuh), baik ketika menjadi imam atau sedang sholat sendiri.
Bagi imam sholat jamaah, saat membaca doa qunut nazilah ini agar mengumumkan lafadz doanya, yaitu dengan mengubah kata ganti untuk diri sendiri (mutakallim wahdah) menjadi kata ganti untuk orang banyak (mutakallim ma ‘al ghaird), dan makmum cukup mengaminkannya.
Dari kata ganti ‘ana’ diubah menggunakan kata ganti ‘nahnu’. Misalnya, dari “Allahummahdinii…” menjadi “Allahummahdinaa…”.ADM (SUMBER : Republika.co.id)


















