LUMAJANG,PEDOMANINDONESIA – Langit di Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, berubah muram sejak siang. Hujan turun deras tanpa henti, mengguyur perbukitan dan persawahan hingga air meluap ke sungai. Dalam waktu singkat, arus deras mengalir menghantam tepian tambang dan jalan desa.
Sebuah video yang beredar viral di media sosial memperlihatkan detik-detik menegangkan. Suara warga terdengar panik, beberapa berteriak memperingatkan agar sopir segera keluar dari truk. Tapi arus datang terlalu cepat kecokelatan, membawa batang kayu dan batu besar. Satu truk terseret, disusul truk lainnya, tenggelam dalam derasnya air.
“Ya Allah, truknya kebawa…!” teriak seseorang dalam video dengan suara gemetar, disambut jeritan warga lain yang tak mampu menolong.
Warga sekitar hanya bisa menyaksikan dari jauh. Hujan deras dan derasnya arus membuat siapa pun tak berani mendekat. Beberapa sopir berhasil menyelamatkan diri dengan melompat, tapi sebagian truk hilang tertimbun lumpur dan material banjir.
“Air datangnya mendadak sekali. Awalnya cuma genangan, tapi lima menit kemudian langsung besar,” tutur Mujiono (52), warga Gondoruso yang ikut membantu evakuasi malam harinya. “Kami semua kaget, karena arusnya seperti air bah.”
Suasana haru menyelimuti pos darurat di dekat balai desa. Beberapa keluarga sopir masih tampak syok, menatap ke arah aliran sungai yang kini tenang, seolah tak pernah memakan apa pun. Seorang istri sopir tampak memegang ponsel yang berisi rekaman video terakhir suaminya sebelum kejadian. “Katanya sebentar lagi mau pulang,” ucapnya lirih.
Meski begitu, kabar baik datang dari petugas. Saat dikonfirmasi, Yudi KL, petugas BPBD Kabupaten Lumajang, memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
“Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa. Memang benar ada beberapa truk yang sempat terseret arus banjir, tapi seluruh sopir berhasil menyelamatkan diri,” ungkap Yudi, Rabu (5/11).
Ia menambahkan, banjir terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Pasirian sejak sore. Air dari hulu meluap dan memperparah kondisi di titik-titik rawan seperti area tambang dan bantaran sungai.
“Warga kami imbau untuk lebih waspada, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. Jangan beraktivitas di area sungai atau bantaran yang berisiko,” imbuhnya.
Kini, sisa-sisa banjir masih tampak: genangan air, tumpukan batu, dan beberapa bagian truk yang nyaris tak bisa dikenali. Desa Gondoruso kembali tenang, tapi bayangan peristiwa sore itu masih tersisa di benak warga.
Di balik lumpur dan arus yang mengamuk, tersimpan kisah tentang manusia yang berjuang melawan alam tentang hujan yang tak hanya menumbuhkan, tapi juga mengingatkan betapa kecilnya kita di hadapan kekuatan bumi.



















