
SUMENEP (PI) – Musala Pondok Pesantren (PP) Annuqayah Daerah Lubangsa Utara, Guluk-guluk, Sumenep, pada Senin malam (29/12/2025), menjelma menjadi panggung peradaban.
Pada malam itu, santri PP Annuqayah Daerah Lubangsa Utara meluncurkan sebuah karya kolektif bertajuk Dalam Hening Kami Bicara, sebuah buku antologi yang lahir dari kegelisahan intelektual para santri.
Acara launching berlangsung sederhana namun sarat makna. Dihadiri para santri, asatidz, dan pengasuh, serta undangan dari daerah Pesantren Annuqayah.
Peluncuran buku menjadi penanda penting bahwa tradisi literasi di lingkungan pesantren Lubangsa Utara terus hidup dan berkembang.
Buku Dalam Hening Kami Bicara tidak hanya menjadi bukti produktivitas santri dalam dunia tulis-menulis, tetapi juga menjadi penegasan bahwa pesantren adalah ruang subur bagi tumbuhnya sastra dan pemikiran.
APRESIASI KIAI MOH. NAQIB HASAN
Dalam sambutannya, pengasuh PP Annuqayah Daerah Lubangsa Utara Kiai Moh. Naqib Hasan menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terbitnya buku tersebut.
Menurutnya, karya ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan hasil kerja intelektual yang digarap dengan kesungguhan dan dibukukan secara rapi serta bertanggung jawab.
“Karya ini patut diapresiasi karena ditulis dan dibukukan dengan sangat baik. Ini menunjukkan bahwa santri bukan hanya mampu membaca realitas, tetapi juga menuliskannya dengan bahasa yang jujur dan bermakna,” ujar Kiai Naqib di hadapan para santri.
Sebelum secara simbolis meluncurkan buku Dalam Hening Kami Bicara, Kiai Naqib Hasan memberikan motivasi kepenulisan yang menggugah. Ia menegaskan bahwa tinggi-rendahnya peradaban manusia sangat ditentukan oleh dua hal utama: filsafat dan sastra.
“Ada dua hal yang menyebabkan peradaban manusia menjadi tinggi. Pertama adalah filsafat, dan yang kedua adalah sastra. Jika ingin peradaban bangsa Indonesia jaya, jangan pernah melupakan dua hal ini,” tandasnya.
Menurut Kiai Naqib, filsafat melatih manusia berpikir mendalam dan sistematis, sementara sastra mengasah kepekaan rasa, empati, dan kemanusiaan. Keduanya, jika dirawat dengan baik, akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.
MENELADANI JEJAK ALUMNI
Dalam kesempatan itu, Kiai Moh. Naqib Hasan juga mengajak para santri meneladani jejak para alumni Annuqayah yang telah lebih dahulu menekuni dunia kepenulisan. Ia menyebut beberapa nama, seperti Wakid Lampacak, Bernando J. Sujibto, dan sejumlah alumni lainnya yang telah dikenal sebagai penulis sastra.
“Mereka bisa menjadi penulis bukan karena tiba-tiba pandai menulis, tetapi karena mereka memulainya dengan membaca banyak karya sastra. Membaca adalah pintu pertama sebelum menulis,” ungkapnya.
Kiai Naqib menekankan bahwa kekuatan literasi santri Lubangsa Utara—yang sering disebut Lubtara—terletak pada daya baca yang sangat baik. Budaya membaca inilah yang kemudian melahirkan keberanian menulis, berdiskusi, dan menuangkan gagasan dalam bentuk karya sastra.
“Lubtara bisa seperti ini karena daya baca santrinya sangat baik. Ini harus terus dijaga dan ditingkatkan,” tambahnya.
PUISI SEBAGAI PUNCAK EKSPRESI
Setelah prosesi peluncuran buku, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi dari antologi Dalam Hening Kami Bicara. Sebanyak 14 penulis tampil satu per satu membacakan karya mereka di hadapan para hadirin.
Suasana musala berubah menjadi ruang kontemplasi. Setiap bait puisi yang dibacakan seolah mengajak pendengar menyelami dunia batin para santri: tentang sunyi, harapan, keresahan, cinta, Tuhan, dan realitas sosial yang mereka jumpai.
Pembacaan puisi tidak sekadar menjadi ajang unjuk kemampuan, tetapi juga menjadi proses keberanian—berani bersuara di tengah keheningan, berani mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam, dan berani menyapa dunia melalui bahasa sastra.Para santri yang membacakan puisi tampil dengan gaya dan karakter masing-masing.
Ada yang membaca dengan suara lirih penuh perasaan, ada pula yang lantang dan ekspresif. Namun, satu hal yang sama: setiap puisi lahir dari kejujuran rasa.
Peran Laskar Pena dan Pembina LiterasiAcara launching buku dipandu pembina literasi Laskar Pena PP Annuqayah Daerah Lubangsa Utara, Ahmad Muhli Junaidi. Sebagai pendamping dan penggerak literasi, Ahmad Muhli dikenal konsisten mendorong santri membaca, menulis, dan berani mengekspresikan gagasan.
Di bawah bimbingannya, Laskar Pena Lubangsa Utara tidak hanya menjadi komunitas menulis, tetapi juga ruang belajar bersama—tempat santri berdiskusi, mengkritik karya, dan saling menguatkan dalam proses kreatif.
Menurutnya, lahirnya buku Dalam Hening Kami Bicara adalah hasil dari proses panjang: membaca, menulis, merevisi, dan mendiskusikan karya secara berkelanjutan.
“Menulis itu bukan semata soal bakat, tetapi soal ketekunan dan keberanian untuk terus belajar,” ujarnya di sela-sela acara.
PERTANYAAN PENUTUP YANG MENGGUGAH
Di akhir sesi pembacaan puisi, Ahmad Muhli Junaidi memberikan satu pertanyaan kepada seluruh santri yang hadir. Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun sarat makna literasi,
“Siapa nama penulis puisi berjudul Janji?”Para santri tampak berpikir dan saling berbisik. Beberapa mengangkat tangan, namun hanya satu yang mampu menjawab dengan tepat. Pertanyaan itu akhirnya dimenangkan oleh seorang santri senior, yang menunjukkan bahwa tradisi menyimak, mengingat, dan mengenali karya teman sendiri telah tumbuh dengan baik.
Momen ini menjadi penutup yang manis sekaligus reflektif bahwa literasi bukan hanya tentang menulis, tetapi juga tentang membaca dengan saksama, menghargai karya orang lain, dan membangun ingatan kolektif atas karya bersama. ADM (Sumber : Apijiwa.id)



















