
LUMAJANG (PI) – Fish Cooking Fest tahun 2025 merupakan awal dari kegiatan Dinas Perikanan untuk mengekspos potensi di Lumajang. Apalagi Lumajang punya potensi perikanan yang luar biasa bukan hanya perikanan air tawar tapi juga air laut.
Masyarakat juga perlu tahu, bahwa Lumajang ini juga punya potensi ikan laut yang ekspor. Ada ikan layur yang itu juga dikirim ke beberapa kota yang jumlanya berton ton. Ikan layur ini juga potensi untuk ekspor. Nah, ini yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat. Tentu saja, ke depan Fish Cooking Fest ini bukan hanya sebagai sebuah momen yang diperingati, tapi menjadi sebuah ekspos potensi perikanan Lumajang. Demikian pernyataan Yuli Hariswati, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang.
“Harapannya, masyarakat semakin paham bahwa potensi ikan laut kita ini cukup beragam. Dan tentu ini juga hal ini akan menumbuhkan kecintaan kepada daerah. Bagaimana kemudian mereka bisa meningkatkan angka mengkonsumsi ikan sekaligus ekpose potensi Lumajang. Mengingat Lumajang ini potensi perairannya cukup bagus, bukan hanya pantainya yang panjangnya sekitar 75 kilo mulai dari Yosowilangun sampai dengan Tempursari, tapi juga potensi perairannya bisa dibuat budi daya ikan tawar,” ujar mantan Kepala Dinas Pariwisata Lumajang ini.
Fish Cooking Fest mendatang akan dikemas lebih menarik lagi dengan melibatkan lebih banyak lagi masyarakat sampai dengan Gen z. Kenapa? Karena merekalah nanti yang akan menjadi mediator untuk bisa menyampaikan ke masyarakat bagaimana sebenarnya potensi Lumajang.
“Kami harus lebih bisa mengemas Fish Cooking Fest bukan hanya sebagai momen atau even, tapi sebuah gerakan bersama untuk lebih mengenal tentang perikanan Lumajang,” paparnya.
Ditanya soal berapa kebutuhan masyarakat Lumajang terhadap ikan dan berapa potensi ikan sendiri, Yuli memaparkan, ekspos secara angka memang masih kecil. Maka dari, pihaknya terus mencari pola bagaimana meningkatkan komsumsi ikan. Secara total produksi ikan kita cukup tinggi, cuman untuk budaya makan ikan ini yang perlu terus digenjot. Apalagi protein ikan sangat tinggi dan sangat diperlukan untuk menekan angka stunting.
Ini yang sekarang lagi digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten Lumajang.Karena kalau kita hitung dengan nilai konsumsi ikan di masyarakat ini masih perlu didorong. “Katakanlah kalau 59 kilo per tahun dibagi 360 hari berarti masih 0, sekian persen. Artinya, ikan harus menjadi alternatif yang dicari atau di ada di meja-meja rumah makan di rumah rumah,” paparnya.
Bukan hanya itu, pihaknya kata Yuli, memohon arahan dan saran kepada Bupati agar ASN membeli dan mengkonsumsi ikan, bahkan pihak Dinas Perikanan membuka pre order dengan mencantumkan kontak person salah satu staf Dinas Perikanan untuk bisa memesan.
“Dan penjualan ikan khusus di acara Fish Cooking Fest lumayan tinggi untuk ASN. Kami berharap ASN bisa menjadi contoh agar mereka mengkonsumsi ikan. Karena para pembudidaya ikan juga butuh pasar yang kompetitif. Mereka bersemangat membudidayakan ikan, kemudian ikan ini nanti akan berlimpah dan berharap ikannya mudah terjual,” pungkasnya seraya menambahkan, Dinas Perikanan sudah mempersiapkan kegiatan bakar ikan menyambut tahun baru 2026.
“Ini yang akan kita biasakan, sehingga menjadi budaya. Yang namanya budaya itu terbiasa, habit untuk mengkonsumi ikan dan menjadikan ikan sebuah konsumsi yang harus ada dalam keseharian,” paparnya.

KENDALA PEMASARAN HARUS DICARIKAN JALAN KELUAR
Problem serius terkait ikan/ perikanan tidak terletak di faktor internal Dinas Perikanan. Tidak juga di faktor nelayan dan peternak ikan. Di internal Dinas Perikanan misalnya, banyak penyuluh dan ahli di bidangnya. Di tingkat nelayan juga hampir rata-rata mereka melakukan penangkapan ikan ramah lingkungan dan sudah pernah mengikuti pelatihan-pelatihan.
“Yang menjadi kendala dan tantangan adalah market, pasar. Banyaknya para pembudidaya ikan dan orang-orang muda yang menjadi pengusaha ikan ini dicarikan solusi pasar. Minat masyarakat untuk bisa mengkonsumsi ikan juga perlu didorong. Bagaimana ikan tidak menjadi sesuatu yang dianggap mahal, mengingat nilai kandungannya sangat baik bagi tubuh kita. Intinya ini masalah pasar,” pungkasnya.
Sebenarnya, ujar Yuli, ada peluang di SPPG atau dapur MBG. Dalam hal ini Yuli mengaku masih harus berkomunikasi dengan beberapa pihak. Yang sudah masuk ke dapur MBG ikan lele. Nah, harapannya ini akan menjadi peluang yang terbuka terutama pembudidaya ikan.
“Idealnya, hasil panen mereka bisa keluar. Bukan sebaliknya, kesulitan menjual ikan hasil panen. Makanya, nanti kita akan lakukan pendampingan tidak hanya di tingkat hulu tapi sampai ke hilir,” paparnya menutup wawancara. ADM



















