LUMAJANG,PEDOMANINDONESIA – Pagi yang pelan bergerak menuju siang ketika ruang pertemuan DPC Perari Lumajang dipenuhi suasana hangat, Selasa (11/11/2025). Tidak ada seremoni berlebihan, hanya percakapan yang mengalir seperti sungai kecil, membawa kesan mendalam dari sepuluh hari magang mahasiswi STIH Jenderal Sudirman. Waktu yang singkat itu ternyata cukup untuk mengubah cara pandang mereka terhadap dunia hukum yang selama ini hanya dikenal lewat bangku kuliah.

Dalam suasana sederhana namun akrab, Husnan Ana Farosi,.S.H.,AP membuka perpisahan dengan pesan yang terdengar seperti penunjuk arah bagi para calon sarjana hukum. “Dimanapun kalian berada tergantung niatnya. Selamat, dan perbanyaklah membaca, terutama kamus hukum. Masuknya ilmu itu tidak terasa,” katanya. Ucapannya mengalir tenang, mengingatkan bahwa hukum bukan sebatas peraturan, tetapi kebiasaan belajar yang diam-diam membentuk ketajaman berpikir.
Baca juga: DPC PERARI Lumajang Sambut Mahasiswi STIH Jenderal Sudirman dalam Magang Perdana Penuh Semangat
Misdianto, S.H selaku ketua DPC Perkumpulan Pengacara Indonesia (PERARI) menambahkan lapisan makna dengan pandangan reflektif. Baginya, teori hukum selalu bergerak. “Semakin dikenal, semakin sempit ruang gerak kita. Jagalah marwah dan jati diri kalian. Ilmu dan teknologi harus berjalan seimbang dengan iman dan takwa,” tuturnya. Kalimat itu jatuh seperti catatan peringatan bahwa kecakapan hukum tidak cukup tanpa karakter yang kuat.
Haji Sriyadi, S.H.,M.Si mengingatkan pentingnya menjaga nama almamater. “Ilmu yang kalian pakai itu tolong ditambah dengan membaca. Duit, doa, usaha, iman, takwa, itu pegangan hidup,” ucapnya. Pesan itu seperti rumus sederhana namun padat untuk menapaki jalur panjang profesi hukum yang penuh ujian.
Dari pihak mahasiswa, rasa syukur tampak jelas meski tanpa kata berlebihan. Dewi, salah satu peserta magang, menyampaikan ucapan terima kasih. “Banyak hal yang kami dapat dari sini. Saya mohon doa semoga mendapat ilmu yang bermanfaat,” ungkapnya dengan suara yang tertahan namun mantap.
Nisa, yang selama magang ikut turun langsung menangani berbagai perkara, menyebut pengalaman di Perari sebagai sesuatu yang membuka mata. “Kami belajar banyak, mulai dari kasus perdata, sengketa tanah, sampai bertemu langsung dengan kepala desa. Semoga kami sukses mencapai segala keinginan kami,” ujarnya.
Baca juga:Perari Bersama Mahasiswa Hukum STIH JS Perkuat Literasi Agraria di Kelurahan Jogotrunan
Perpisahan itu terasa seperti tanda seru kecil di ujung perjalanan belajar mereka. Sepuluh hari di Perari memang singkat, tetapi jejaknya akan mengikuti para mahasiswi ini ketika suatu hari nanti mereka berdiri sebagai pengawal keadilan di tengah masyarakat. Mereka pulang bukan hanya membawa catatan, tetapi cara pandang baru tentang hukum dan manusia yang menghidupinya.



















