LUMAJANG – Penyakit demam berdarah (DBD) di Kabupaten Lumajang tahun 2023 mengalami penurunan. Jika tahun sebelumnya angkanya mencapai 175 penderita DBD saat ini menurun menjadi 125 penderita. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan selalu menjaga kebersihan terutama setelah turun hujan.
Askab Hariyanto, Kabid Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lumajang, menjelaskan, himbauan selalu menghimbau kepada seluruh masyarakat melalui petugas kesehatan dan kader di desa agar aktif dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Karena, pada dasarnya nyamuk jika tidak punya tempat untuk bertelur tidak berkembang biak. Dalam waktu satu bulan, dua bulan nyamuk akan mati dengan sendirinya. Paling lama usia nyamuk sekitar 3 bulanan. Nyamuk dewasa kalau sudah mati sementara tempat untuk berkembang biak tidak ada, maka nyamuk akan musnah. Karena penerusnya tidak ada”, ujarnya.
Menurutnya, pemberantasan sarang nyamuk merupakan hal yang penting. Oleh karena itu, masyarakat bisa melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan cara PSN.
Dimana sebenarnya sarang nyamuk itu berada dan berkembang? Askab memaparkan, sarang nyamuk itu ada di tempat-tempat air yang menggenang, bukan air yang mengalir. Misalnya di bak bak mandi, tempat genangan air. Di situlah muncul berkembangnya nyamuk.
“Makanya, minimal seminggu sekali bak mandi dikuras. Kalau ada tempat-tempat genangan air supaya posisinya ditengkurepkan (dibalik), sehingga tidak dipakai untuk berkembang biakan nyamuk. Kalau kolam lain lagi karena di situ ikan yang bisa menyantap bintik bintik nyamuk”, ujarnya.
Dikatakan, bahwa PSN merupakan bentuk pencegahan sementara untuk pengobatan yang terlanjur terserang DBD, maka petugas kesehatan akan melakukan penyelidikan epidemiologi.
“Penyelidikan epidemiologi ini para petugas datang ke rumah warga yang kenak DBD dan rumah sekitar penderita untuk memastikan ada tidaknya penderita DBD lain. Kalau ada, maka mereka disarankan untuk datang ke layanan kesehatan”, tukasnya.
Dikatakan, DBD memang bukan penyakit mematikan, namun jika penderita terlambat dalam pertolongannya, bisa menyebabkan kematian. Oleh karena itu, ketika ada satu kasus DBD, maka petugas kesehatan akan melakukan penyelidikan epidemiologi.
“Kalau ada penderita lain yang gejalanya sama dengan penderita DBD sebelumnya, maka akan larut ke rumah sakit”, papanya.
Terkait nyamuk, Askab menjelaskan, ada dua jenis nyamuk, yakni aidus aigepty dan algobiktus. Nyamuk Aedes aegypti biasanya itu senangnya tinggal di lingkungan rumah dan sekitarnya, sedangkan nyamuk algobiktus hidup di pekarangan.

“Keduanya sama. Sama sama membahayakan. Kalau nyamuk Aedes aegypti bisa menyebabkan DBD dan mematikan jika si penderita terlambat memeriksakan ke petugas kesehatan. Sedangkan nyamuk algobikus menyebabkan penyakit chikungunya. Tubuh terasa sakit semua dan bila tidak diobati menyebabkan kelumpuhan”, ujarnya.
Dari data yang ada, saat ini (tahun 2023) penderita DBD sekitar 125 orang di seluruh Kabupaten Lumajang dan yang meninggal hanya satu orang. Dan penderita terbanyak ada di perkotaan yang penduduknya padat. Sedangkan di desa dan di tempat pegunungan lebih sedikit bahkan hampir jarang terjadi.
“Yang terbanyak di perkotaan, yakni di Rogotrunan, lalu di Randuagung, dan Kedungjajang”, tuturnya.
Askab menghimbau kepada masyarakat Lumajang melakukan pencegahan perkembangbiakan nyamuk dengan cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Yang kita harapkan peran aktif masyarakat. Minimal seminggu sekali air yang ada di bak bak mandi dikuras untuk memutus mata rantai berkembang biaknya nyamuk. Walaupun di situ ada jentik-jentik nyamuk akan musnah.
“Gak akan sempat menjadi nyamuk. Karena nyamuk itu antara 11 sampai 14 hari mulai dari telur menjadi jentik. Dari jentik menjadi nyamuk itu sekitar 11 sampai 14 hari. Kalau 7 hari sudah dikuras, maka jentik-jentik ini ndak sampai menjadi nyamuk. Sudah mati dulu. Sebenarnya gampang kan. Tapi ini membutuhkan kesadaran yang benar-benar dipahami oleh masyarakat”, tambahnya. SYM



















